This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 24 April 2017

13 Tahun Krisis Konflik di Patani, GEMPITA Ajak Masyarakat Indonesia Peduli Patani

Jakarta – Gerakan Mahasiswa Indonesia Peduli Patani (GEMPITA) pada Rabu (04/01), memperingati 13 tahun krisis Patani (Thailand Selatan). Secara menyeluruh, wilayah Patani terdiri dari Provinsi Patani, Provinsi Yala, Provinsi Narathiwat, Provinsi Setul dan Provinsi sebagian dari Songkla.
Krisis Patani (Thailand Selatan) adalah konflik sengit yang terjadi di provinsi Thailand Selatan. Konflik menjadi semakin kompleks dan semakin sengit setelah peristiwa pada 1 Januari 2004, yaitu peristiwa perampasan senjata api di dalam kamp tentara Thailand di kawasan Pileng Daerah Cha Airon Wilayah Narathiwat. Hal itu kemudian diikuti dengan insiden-insiden berikut ini:
Pada 1 Januari 2004 – 2017, genap 13 tahun konflik di Provinsi Thailand Selatan. Selama 13 tahun konflik terjadi di Provinsi Thailand Selatan. Pun demikian, dunia internasional belum mengetahui apa yang terjadi sebenarnya terhadap masyarakat Patani (Thailand Selatan).
Pada 28 April 2004 – 2017, genap 13 tahun peristiwa pembunuhan yang terjadi di dalam sebuah masjid Krisik Daerah Merang Wilayah Patani. Peristiwa ini adalah kenangan pahit yang tidak akan hilang di hati masyarakat Patani (Thailand Selatan).
Pada 25 Oktober 2004 – 2017, genap 13 tahun peristiwa pembantaian demonstrasi damai oleh masyarakat Patani (Thailand Selatan). Demonstrasi damai ini dibalas dengan tindakan tidak berperikemanusiaan dan perikeadilan, serta melanggar Hak Asasi Manusia (HAM) oleh pemerintah Thailand.
Genap 13 tahun konflik di Provinsi Thailand Selatan, khususnya peristiwa pembantaian di Masjid Krisik dan Demontrasi Takbai mereka kehilangan saudara-saudara hanya sekejap mata, dan ada juga yang mengalami cacat seumur hidup. Menurut masyarakat setempat, pelaku pembunuhan tersebut tidak juga ditangkap oleh pemerintah hingga saat ini.
“Kami berharap kepada dunia internasional, khususnya Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam supaya peduli terhadap pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang tidak Perikemanusiaan dan Perikeadilan terhadap saudara kita Muslim Patani (Thailand Selatan),” ujar Aiman bin Ahmad selaku Koordinator aliansi GEMPITA.

Oleh : Aliansi GEMPITA

GEMPITA Kembali Aksi Terkait Kondisi dan Situasi Patani (Thailand Selatan)

JAKARTA – Pada 23 April 2017, Gerakan Mahasiswa Indonesia Peduli Patani (GEMPITA) gelar aksi mendesak pemerintah Thailand agar menghenti tindakan diskriminasi terhadap masyarakat Patani di Thailand bagian selatan. Aksi kali ini diadakan di Car Free Day, bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, Indonesia.
Aksi ini terkait peristiwa penembakan ke atas dua pemuda Patani, salah seorang yang baru lulusan sarjana Perguruan Tinggi dari Indonesia, yaitu Ismail Hama, penembakan ini terjadi di Daerah Resak Provensi Narathiwat pada Rabu (29/03).
Sehubungan dengan ini, GEMPITA membicarakan konflik yang terbaru di Patani, terjadinya 40 serangan penembakan dan ledakan bom di Patani yang mencakupi wilayah-wilayah bagian selatan, Jum’at (07/04).
Dan dimana peristiwa baru-baru ini (19/04), adalah 14 serangan penembakan dan ledakan bom di ketiga wilayah, yaitu provinsi Pattani, Naratiwat dan Songkhla.
Aksi mahasiswa GEMPITA kali ini, Aiman Bin Ahmad, koordintor GEMPITA Jakarta berharap kepada media-media internasional serta mengajak untuk bersama-sama menyebarkan isu-isu diskriminasi yang tidak Perikemanusiaan, Perikeadilan dan melanggar Hak Asasi Mansuia (HAM) warga di Patani."
Terkait persoalan media, tandasnya bahwa mengapakah informasi kondisi Patani tidak tersebar luas di Indonesia, padahal Indonesia adalah tetangga dekat dan tidak jauh dari kami”, tambahnya.

Sabtu, 13 Februari 2016

PERANG RAKYAT DI PATANI DAN PUNCA PATANI DIRAMPAS OLEH SIAM

AMPERA PATANI - Perang rakyat di Patani dalam sejarah adalah perjalanan hidup manusia ada semenjak masa dahulu dan masa era kekinian, perkembangan demi perkembangan sesuai dengan corak bumi dan tinkahlaku manusia didalam masanya masing-masing dalam menentu cara berperang, seiring dengan perkembang ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangkan oleh para ilmuan, baik yang ada di Barat dan Timur, semua adalah untuk memajukan bangsa diri sendiri, dalam rangka bersaingan dan pertahanan sebuah wilayah yang mareka sedang huni didalamnya.

Sedih dan luka yang membawa pilu menghiris hati anak bangsa dan umat manusia bila peperangan terjadi dan kedamaian adalah harapan satu-satunya untuk membawa ketenangan didalam kehidupan, jiwa kecil dalam diri anak manusia tidak ada keinginan untuk berperang, akan tetapi jalan buntu dalam penyelesaian masalah, maka perang yang menjadi pilihan anak manusia dimuka bumi ini, dari zaman batu sampai pada zaman modern sekarang.

Di tanah Meleyu Patani sendiri pun sudah memasuki era baru, kadang kala orang megambarkan perang itu hanya angkatan perang yang berperang atau dengan kata mudah bertempur disebuah lapang terbuka yang jauh dari mata manusia ramai, tetapi perang sekarang bukan lagi peperangan antara dua belah pihak pasukan bersenjata yang saling beradu kekuatan persenjataan dan jumlah orangnya, sebab perang sekarang itu meliputi keseluruhan hidup manusia yang ada diwilayah itu, baik masalah budaya, bahasa, agama, adat, ideologi, ekonomi dan sebagainya, entah orang diwilayah itu mau berdiam diri atau bergerak, maka ahli pemikir militer terkemuka sepakat mengatakan bahwa perang sekarang adalah perang rakyat menyeleruh atau perang rakyat total.

Sekarang sedang dalam keadaan perang total itu, tentu pula akan kita bertanya, siapakah lawan atau musuh bangsa Melayu Patani, maka setiap orang yang kenal akan sejarah bangsa sendiri akan mengatakan bahwa musuh bangsa Melayu Patani adalah bangsa Siam, kenapa bangsa Siam menjadi musuh bangsa Melayu Patani, dengan tidak ragu kita dapat berkata bahwa bangsa Siam adalah penjajah, sebab pada tahun 1785 M. Bangsa Melayu Patani kalah perang sama bangsa Siam, maka Patani ditakluk dan dijajah, yang kalah tetap menjadi hina dalam tanah air sendiri, untuk menembus kehinaan itu adalah perang pula terhadap menjajah Siam itu, barang siapa yang tidak mahu melawan dengan penjajah, yang mahu tetap mempelihara kehinaan itu, maka layaklah bagi mareka itu dipanggil sebagai putra dan putri yang mati sebelum jasad mati yang ditelan bumi dan dimakan cacing, kain kafanlah yang layak mareka pakai bukan baju kurung Melayu atau kain sarung dan songkok.

Di Patani sekarang adalah perang rakyat, rakyat jelata bangkit dengan daya upaya dengan apa adanya untuk melawan bangsa penjajah Siam, lalu akankah Patani akan mendapat kemenangan disuatu hari nanti, menang atau tidak menang itu bukan hal utama yang patut kita bicarakan, tembusan rasa hina kepada kehormatan bangsa Melayu Patani itulah yang wajib semua penghuni dibumi Patani barakan, tentu pula bira bara sudah menyala dengan bulat dan merah, lambat lau bangsa penjajah akan angkat kaki dari bumi Patani, ketotalan yang wajib orang Melayu Patani membangun bersama-sama, bagaimana rasa kita dan sikap kita terhadap bangsa penjajah. Dengan ketotalan itulah Patani akan sempurna dalam perang rakyat, yang patut pada adat ilmu politik dan ilmu stratigi militer dapat memberi bahasa yang sama bahwa Patani menang perang dengan penjajah Siam.

PUNCA PATANI DIRAMPAS OLEH SIAM

1785 KEKALAHAN PERANG
-Penaklukan dan Penguasaan
-Siam menguasai pemerintahan Negara
-Hilang kedaulatan negara

1902 HAPUS KEKUASAAN KESULTANAN MELAYU
-Penjajahan dan Penguasaa
-Politik Pecah dan Perintah
-Kolonialisasi dan Aneksasi

1909 RAMPASAN TANAHAIR (Melalui Perjanjian Anglo Siamese).
-Asimilasi dan Penetrasi
-Siamisasi dan Nasionalisasi
-Integrasi dan Sinpusis
Referensi sumber diulas dari links :-
.........................................................
https://www.facebook.com/445736152258210/photos/a.445806728917819.1073741828.445736152258210/543031985861959/?type=3&theater

Jumat, 12 Februari 2016

GENERASI MUDA DI NAKHON SRITHAMARAT SEMAKIN LUPAKAN BAHASA MELAYU

AMPERA PATANI - (BERNAMA) 13 Febuari 2016, Sejak turun temurun orang Thailand berbangsa Melayu di wilayah Nakhon Srithamarat, selatan Thailand bertutur bahasa Melayu loghat Kedah, namun generasi mudanya semakin kurang bertutur bahasa itu.
Aktivis Bahasa Melayu di Khlongdin, Zainah Saiwari berkata generasi muda bangsa Melayu di wilayah itu kini lebih selesa bertutur bahasa Thai dialek selatan kerana pengaruh masyarakat sekeliling.
Ini ditambah oleh faktor penduduk berbangsa Melayu di situ yang semakin mengecil bilangannya, tiada pelajaran Bahasa Melayu di sekolah rendah, sekaligus mengurangkan aktiviti-aktiviti yang menggunakan bahasa Melayu, katanya.
Beliau berkata kini hanya segelintir golongan tua di Nakhon Srithamarat yang masih mempertahankan penggunaan bahasa Melayu.
"Orang Muslim di sini sudah lama bertutur bahasa Melayu, semasa nenek moyang saya dahulu mereka menggunakan bahasa Melayu dalam pertuturan sehingga zaman saya sekarang.
"Bahasa Melayu di sini ada persamaan dengan bahasa Melayu di bahagian utara Malaysia iaitu Kedah kerana ada seorang Tuan Guru yang bertutur bahasa Melayu loghat Kedah datang membuka pondok agama di sini, manakala di bahagian Daerah Thasala ada persamaan dengan bahasa loghat Kelantan," katanya ketika dihubungi Bernama di sini.
Khlongdin, ialah sebuah kawasan penempatan di daerah Muang di wilayah Nakhon Srithamarat dan majoriti penduduk di kawasan ini adalah orang Muslim.
Zainah, 66, yang bergiat dalam bidang bahasa Melayu di selatan Thailand sejak zaman mudanya, berkata perkembangan yang berlaku dalam kalangan generasi muda Melayu di Nakhon Srithamarat dibimbangi akan membantutkan perkembangan dan kemajuan bahasa Melayu di wilayah itu.
Berbeza dengan apa yang berlaku di Nakhon Srithamarat, penggunaan bahasa Melayu masih dipertahankan di wilayah Patani, yang merangkumi tiga wilayah iaitu Narathiwat, Yala dan Pattani serta empat daerah di wilayah Songkla iaitu Chana, Thepha, Sebayoi dan Nathawi.
Majoriti penduduk di wilayah Patani adalah berbangsa Melayu dan ada sebahagian daripada golongan tua di sana yang hanya boleh bertutur bahasa Melayu loghat Kelantan dan tidak memahami langsung bahasa Thai.
Presiden Pusat Pengembangan Kebudayaan Islam, Pattani, Asnee Dolahlae, 36, berkata bahasa Melayu Patani ada persamaan dengan bahasa Melayu loghat Kelantan kerana dipengaruhi faktor sejarah zaman pemerintahan Patani.
"Menurut sejarah semasa Raja Kuning dari Patani mangkat, pemerintahannya telah diganti oleh Raja Bakal dari Kelatan kerana Raja Kuning tidak mempunyai pewaris.
"Oleh kerana raja dari Kelantan banyak berjasa kepada Raja Kuning maka dilantik raja dari Kelantan untuk memerintah Patani seramai lapan raja berturut-turut" katanya.
Asnee berkata Patani pada zaman dahulu merupakan sebuah negeri yang terletak di bahagian utara Semenanjung Tanah Melayu dari Songkhla hingga Kelantan sebelum diserang dan ditawan oleh Siam.
Mengikut sejarah, pernah suatu ketika dulu tertubuh sebuah negeri yang dinamakan Patani Besar pada tahun 1603, yang merangkumi Patani, Kelantan, Songkhla, Terengganu dan Pattalung.
Kerajaan ini kemudian berpecah apabila kerajaan pusat di negeri Patani diserang Siam pada tahun 1785, katanya.
By Kasmining Baka
Referensi sumber diulas dari links :-
.........................................................
http://www.bernama.com/bernama/v8/bm/ge/newsgeneral.php?id=1215209

Rabu, 10 Februari 2016

KERAJAAN MELAYU PATANI

AMPERA PATANI - Sejarah awal Kerajaan Melayu Patani masih lagi diselimuti kekaburan. Dalam catatan sejarah tidak dapat dipastikan asal-usul atau tarikh sebenar kerajaan Melayu Patani didirikan. Mengikut catatan pelawat-pelawat China yang membuat perhubungan dengan negeri-negeri Asia Tenggara pada abad kedua Masehi sebuah negeri bernama "Lang-ya-shiu" atau Langkasuka (Paul Wheatley 1961, 387-412) sudahpun wujud ketika itu.
Berpandukan catatan tersebut ahli-ahli sejarah Eropah percaya bahawa negeri Langkasuka yang terletak di pantai timur Semenanjung Tanah Melayu antara Senggora (Songkhla) dan Kelantan itu adalah lokasi asal negeri Patani. Adalah dipercayai bahawa ibu negerinya pada masa itu terletak di sekitar daerah Yarang. Patani adalah sebuah kerajaan yang termaju di Semenanjung Tanah Melayu dan sebuah pelabuhan yang penting sejak kurun ke-8 Masehi kerana Teluk Langkasuka (Teluk Patani sekarang) sangat sesuai dijadikan tempat kapal-kapal dagang berlabuh dan berlindung daripada ribut tengkujuh.
Paul Wheatly menjelaskan bahawa kerajaan Langkasuka menguasai jalan perdagangan timur-barat melalui Segenting Kra dan kekuasaannya meliputi kawasan Semenanjung sehingga ke Teluk Benggala. Kerajaan Melayu Langkasuka wujud sehingga menjelang abad ketiga belas dan diganti oleh Kerajaan Melayu Patani.
Persoalan bagaimana Langkasuka bertukar menjadi Patani masih belum dapat dipastikan oleh para pengkaji sejarah kerana tidak ada sebarang cacatan sejarah yang jelas mengenainya. A.Teeuw dan Wyatt berpendapat bahawa Patani telah ditubuhkan sekitar pertengahan abad ke-14 dan ke-15. Pendapat mereka berasaskan kepada tulisan Tomes Pires dan lawatan Laksamana Cheng Ho ke rantau ini dalam tahun 1404-1433 T.M. (Teeuw & Wyatt 1970,3). Mengikut Hikayat Patani pula, Kerajaan Melayu Patani berasal dari kerajaan Melayu yang berpusat di Kota Mahligai yang diperintah oleh Phya Tu Kerab Mahayana (Teeuw & Wyatt 1970,68).
Oleh kerana kedudukan Kota Mahligai itu terlalu jauh ke pedalaman dan sukar untuk didatangi oleh pedagang-pedagang telah menyebabkan Phya Tu Antara, anak Phya Tu Kerab Mahayana, memindahkan pusat kerajaannya ke sebuah perkampungan nelayan yang kemudiannya diberi nama "Patani", dipercayai berpusat di Kampong Grisek dalam wilayah Patani sekarang ini.
Kedudukan Patani di Semenanjung Siam yang strategik dari segi geografi, telah menyebabkan kota itu menjadi tumpuan pedagang-pedagang asing baik dari barat atau timur untuk singgah sama ada untuk beristirahat ataupun berdagang. Dalam masa yang singkat saja Patani telah muncul sebagai sebuah kerajaan yang penting, maju dari segi ekonomi serta stabil dari segi politik dan pemerintahan. Dasar perhubungan antarabangsanya yang baik telah menyelamatkan Patani daripada jatuh kepada penjajah-penjajah Siam, Portugis dan Belanda.
Agama Islam juga telah membawa angin perubahan yang bermakna kepada Patani. D’ Eredia, seorang pelawat Portugis, telah menulis dalam tahun 1613 bahawa Islam telah bertapak di Patani lebih awal daripada Melaka (Mills 1930). Dalam hal ini, Teeuw dan Wyatt berkeyakinan bahawa Islam telah bertapak di Kuala Berang, Terengganu, iaitu pada sekitar 1386 - 87 T.M. (Teeuw & Wyatt 1970, 4). Phya Tu Antara, yang memeluk Islam melalui seorang ulama dari Pasai, Syeikh Said, telah menukar namanya kepada nama Islam iaitu Sultan Ismail Syah Zillullah Dil Alam (Teeuw & Wyatt 1970, 68-69). Semenjak itu, Patani telah menjadi tumpuan saudagar-saudagar Islam dan menjadikannya sebagai pusat perdagangan Timur-Barat yang terkenal di rantau ini. Patani bertambah maju apabila Melaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511.
Referensi sumber diulas dari links :-
.........................................................
http://sejarahfathoni.blogspot.my/2010/04/kerajaan-melayu-patani_05.html

10 TAHAP UNTUK MEMAJUKAN BAHASA MELAYU PATANI : DEMI KEMANDIRIAN BAHASA MASYARAKAT MELAYU PATANI.

AMPERA PATANI - Pada 09/02/2016, kira-kira 20 tahun yang lalu (1997), semasa saya menjejak kaki di bumi Patani buat kali pertama, saya dapati bahawa kondisi bahasa Melayu di Patani bagaikan seorang pesakit tenat yang sedang mendapat rawatan di bilik Unit Rawatan Rapi (ICU). Malangnya, pada tahun 2016, bahasa Melayu Patani masih berada di ICU tanpa tanda-tanda pemulihan dari sakitnya yang tenat itu.
Walaupun keadaan ini sama sekali tidak menyenangkan, tetapi pada hakikatnya bahasa Melayu Patani masih ‘hidup’ lagi, tidak seperti bahasa-bahasa Melayu yang sudah pupus di wilayah-wilayah yang lain di Thailand. Misalnya, Wilayah Satun merupakan satu wilayah yang peratusan orang beragama Islamnya paling tinggi di Negara Gajah Putih.
Pada kira-kira 100 tahun yang lalu, semua perkampungan di wilayah ini (sekitar 300 buah kampung) berbahasa Melayu. Kini, menurut satu kajian yang dilakukan oleh pengkaji bahasa Melayu tempatan, tinggal 13 buah kampung sahaja yang masih menggunakan bahasa Melayu secara aktif, kesemuanya terletak di simpadan dengan Malaysia.
Ahli sejarah terkenal di Kelantan, Ahmad Fathy Al-Fatani, ketika ditemui penulis, pernah menunjukkan catatan orang Belanda pada abad ke-19 yang memilih Singgora (Songkhla) sebagai tempat belajar bahasa Melayu kerana ‘pertuturannya (dalam bahasa Melayu) bagus’. Kini, di kota pelabuhan tersebut, hampir tiada orang yang berbahasa Melayu dalam kehidupan seharian, walapun kebanyakan penduduk di kota tersebut masihg memeluk agama Islam.
Di tempat-tempat lain, keadaannya lebih dahsyat. Terdapat beberapa wilayah di Thailand yang namanya berasal dari bahasa Melayu, seperti ‘Phuket (bukit)’, ‘Phangga (bunga)’, ‘Trang (terang)’ dan sebagainya. Dalam wilayah-wilayah tersebut dan wilayah yang berhampiran, masih terdapat masyarakat beragama Islam, tetapi boleh dikatakan hampir semuanya tidak lagi bertutur bahasa Melayu. Bahasa percakapan seharian mereka ialah bahasa Thai dialek selatan. Kesan bahasa Melayu hanya tinggal pada nama-nama tempat sahaja, itu pun jika ada.
Berbanding dengan kondisi bahasa Melayu yang sudah pupus di daerah-daerah lain, kondisi bahasa Melayu di Patani boleh dikatakan jauh lebih baik, kerana sekurang-kurangnya bahasa Melayu masih digunakan sebagai bahasa pertuturan seharian di Patani (dalam bentuk bahasa Melayu dialek Patani).
Walau bagaimanapun, jika ditanya adakah bahasa Melayu Patani boleh mempertahankan diri dengan dalam edaran zaman yang begitu pesat ini, kita juga tidak dapat memberikan jawapan yang terlalu positif. Apatah lagi jikia kita memikirkan sama ada kita dapat memartabatkan bahasa Melayu Patani supaya berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bahasa Melayu di Malaysia atau bahasa Indonesia, di bawah kondisi sekarang, cita-cita ini sangat sukar dicapai. Dengan demikian, pertama, untuk menyelamatkan bahasa Melayu di Patani, dan kedua, untuk memajukan serta mengembangkan bahasa Melayu di Patani, kita juga perlu bersikap realistik.
Pada peringkat sekarang, masih ada banyak perkara yang berada di luar lingkungan kuasa orang tempatan, kerana hal-hal sedemikian berkaitan rapat dengan kondisi politik semasa dan sistem pemerintahan. Sungguhpun demikian, masih tetap ada banyak perkara yang boleh dilakukan oleh individu-individu yang ingin mengembangkan bahasa Melayu di Patani.
Berikut ialah 10 tahap yang perlu dicapai oleh sesebuah bahasa, terutamanya bahasa Melayu di Patani, untuk terus bertahan dalam edaran zaman dan dapat dikembangkan untuk menjadi sebuah bahasa yang bermartabat. Kesemua tahap yang berikut bermula dengan kata kerja terbitan yang dibina dengan apitan ‘meN-i’, yang bermula daripada ‘mengalami/melalui’ dan berakhir dengan ‘menjiwai’. Tahapan-tahapan yang diantaranya ada yang boleh digantikan antara satu sama lain.
1. Mengalami/Melalui
Apa yang dimaksudkan dengan ‘mengalami’ atau ‘melalui’ dalam konteks ini ialah sebagai seorang bangsa Melayu Patani, sejak dilahirkan sehingga besar, biasanya dia akan berada dalam lingkungan yang menggunakan bahasa Melayu dialek Patani. Dengan itu, secara automatis dia juga mengalami bahasa Melayu dalam kehidupan sehariannya. Ini merukapan tahap yang paling awal. Tahap ini boleh dicapai tanpa sebarang usaha, hanya perlu dilahirkan atau berada dalam lingkungan yang menggunakan bahasa Melayu sahaja.
Walaupun begitu, pada masa sekarang, sudah mula ada keluarga-keluarga orang Melayu, terutamanya di kawasan perkotaan atau bandar, tidak lagi menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa keluarga. Bagi golongan ini, nasib yang menatikan mereka ialah kehilangan bahasa nenek moyang mereka.
2. Mengenali
Tahap yang selanjutnya ialah ‘mengenali’, iaitu mengenali bahasa Melayu. Tahap ini penting kerana ini merupakan titik permulaan terhadap perasaan positif terhadap bahasa Melayu, bak kata pepatah, ‘tak kenal maka tak cinta’. Namun demikian, cinta yang lahir pada tahap ini belum lagi cinta yang sejati, sebaliknya lebih bersifat ‘cinta buta’ atau ‘cinta monyet’. Ramai daripada orang Melayu Patani mempunyai semangat yang berkobar-kobar untuk melakukan sesuatu, tetapi hampir tidak berhasil kerana kekurangan dalam perkara-perkara tertentu. Akibatnya, rasa cinta mereka juga hampir tidak dapat membuahkan hasil yang positif. Supaya semangat tersebut dapat menghasilkan sesuatu dampak yang positif terhadap bahasa Melayu, penutur bahasa Melayu juga perlu mengalami tahap-tahap yang selanjutnya.
3. Menyedari
Tahap yang ketiga ialah ‘menyedari’, iaitu ‘menyedari bahawa bahasa Melayu perlu dipelajari’. Ramai daripada orang Melayu Patani, sebaik sahaja dimaklumkan bahawa saya mengajar bahasa Melayu, menunjukkan rasa hairan, dan memberikan reaksi-rekasi tertentu. Sebagai contoh:
“Kenapa kamu mengajar bahasa Melayu? Bukankah lebih baik mengajar bahasa Jepun kepada anak-anak Melayu Patani? Itu lebih menguntungkan merkea.” atau
“Kita sudah bercakap bahasa Melayu di rumah, dalam kehidupan seharian. Jadi tidak perlulah kita belajar bahasa Melayu lagi. Lebih baik belajar bahasa-bahasa lain.”
Kebanyakan bekas pelajar saya di universiti juga pernah diajukan soalan yang lebih kurang sama, iaitu “buat apa belajar bahasa Melayu?” dan sebagainya.
Keadaan sedemikian jelas menunjukkan bahawa dalam masyarakat Melayu Patani masih ada agak ramai yang tidak terlepas daripada kejahilan, kerana mereka tidak ‘menyedari’ satu hakikat bahawa setiap bahasa perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh. Kita tidak akan dapat menguasai sesuatu bahasa tanpa dipelajari.
Lihat sahaja orang Malaysia. Adakah orang Malaysia menguasai bahasa Melayu tanpa pembelajaran yang sistematis dan memakan masa yang amat panjang? Adakah orang Indonesia semuanya bisa berbahasa Indonesia hanya kerana mereka dilahirkan sebagai orang Indonesia? Jawapannya tidak. Hanya orang Melayu Patani sahaja yang beranggapan bahawa orang Melayu tidak perlu belajar bahasa Melayu. Hatta orang Thai sendiri, untuk menjadi pengguna bahasa Thai yang baik, perlu mempelajari bahasa Melayu dengan sungguh-sungguh. Hal ini membawa kita kepada tahap yang keempat, iaitu ‘mempelajari’.
4. Mempelajari
Mempelajari dalam konteks ini bukan belajar secara main-main sahaja, sebaliknya, belajar bahasa Melayu seperti kita mempelajari bahasa-bahasa lain, seperti bahasa Arab, bahasa Inggeris, bahasa China, bahasa Jepun dan sebagainya. Atau belajar bahasa Melayu seperti kita belajar subjek-subjek lain, tidak kiralah sains, matematik, agama, dan sebagainya. Di samping kesungguhan, proses mempelajari ini juga memerlukan pembelajaran yang sistematik dan teratur. Para pelajar juga harus mempelajari bahasa Melayu dengan rajin dan gigih. Selagi bahasa Melayu tidak dianggap sebagai satu ‘subjek’ atau ‘mata kuliah’ yang sah, orang Melayu juga tidak akan mempelajarinya secara serius.
Oleh itu, tahap ini sangat penting untuk meningkatkan tahap penguasaan bahasa Melayu di Patani.
Perkara yang perlu dipelajari di peringkat ini ialah semua perkara yang bersangkutan dengan penggunaan bahasa, bermula daripada kosa kata, tatabahasa seperti susunan ayat dan penggunaan imbuhan.
5. Memahami
Setelah mempelajari bahasa Melayu secara sistematis, kita dapat memahami bahasa Melayu. Kefahaman yang timbul pada peringkat ini tidak lagi kefahaman yang kurang jelas, sebaliknya kefahaman yang berdasarkan ilmu bahasa. Kita dapat menganalisis struktur atau susunan ayat, dapat membezakan golongan kata dengan tepat, dan memerhatikan penggunaan kata. Pada peringkat ini, seseorang pengguna bahasa dapat membaca dan mendengar bahasa yang dipelajari dengan baik.
6. Mendalami/Menghalusi
Proses ‘mendalami’ dan ‘menghalusi’ amat perlu untuk meningkatkan tahap penguasaan bahasa Melayu kita, terutamanya untuk mempelajari ‘selok-belok’ dalam penggunaan bahasanya. ‘Mendalami’ bererti memahami sesuatu dengan mendalam, baik di peringkat perkataan, ungkapan, ayat mahupun di peringkat secara keseluruhan. ‘Menghalusi’ pula menguasai perkara-perkara terperinci tentang satu-satu perkataan, imbuhan dan segala perkara yang berkaitan dengan penggunaan bahasa. Misalnya, seorang yang sudah mendalami dan menghalusi bahasa Melayu dapat membezakan maksud antara istilah-istilah seperti ‘cantik, indah, ayu, elok’ atau ‘aman, damai, sejahtera, sempurna’ dan sebagainya. Bukan itu sahaja, dia juga harus dapat memahami maksud tiap-tiap perkataan dengan baik. Tujuan proses ‘mendalami’ dan ‘menghalusi’ adalah supaya kita dapat memahami dan membina ayat yang rumit tetapi teratur dan sempurna
7. Menguasai
Menguasai’ artinya dapat menggunakan bahasa Melayu dengan sepenuhnya untuk menyampaikan maksud serta buah fikirannya sendiri, kerana ilmu-ilmu asas yang diperlukan tentang bahasa Melayu sudah dipelajari. Pada peringkat ini, barulah orang yang menabur bakti demi perkembangan bahasa Melayu dapat melakukan tugasnya dengan baik. Dengan kata lain, sebelum seseorang mencapai tahap ini, janganlah cuba ‘cari makan’ dengan bahasa Melayu, sama ada sebagai guru, pensyarah, jurubahasa, penterjemah, wartawan, penulis, juruhebah, DJ dan sebagainya.
Salah satu masalah bahasa Melayu di Patani ialah keadaan di mana orang-orang penguasaan bahasa Melayunya terlalu lemah sudah mulai ‘cari makan’ dengan bahasa Melayunya yang maish sangat lemah itu. Akibatnya, bahasa Melayu yang tidak betul, tidak sempurna dan yang salah pula disebarluaskan kepada masyarakat umum. Walaupun niat mereka adalah ingin mengembangkan bahasa Melayu, tetapi oleh kerana penguasaannya terlalu lemah, maka niatnya selalunya tidak tercapai. Orang yang ingin mengajar bahasa Melayu, menulis sesuatu dalam bahasa Melayu atau menggunakan bahasa Melayu dalam pekerjaannya sekurang-kurangnya perlu mencapai tahap ini. Jika belum dicapai, jangan dicuba, kerana perbuatan sedemikian akan menjejaskan bahasa Melayu di Patani.
8. Menikmati
Setelah ‘menguasai’, barulah kita dapat ‘menikmati’ bahasa Melayu, baik keindahan, keistimewaan mahupun kehebatannya. Pada peringkat ini, kita tidak perlu lagi dipaksa atau disuruh untuk memmpelajari, kerana menggunakan bahasa Melayu sudah menjadi satu nikmat baginya. Kita akan berasa soronok apabila kita membaca, mendengar, bertutur atau menulis dalam bahasa Melayu. Pengalaman menggunakan bahasa Melayu sudah menjadi nikmat dan sebahagian daripada hidupnya. Orang yang berada pada peringkat ini akan terus-menerus mengkaji bahasa Melayu tanpa dipaksa, dan akan menambahkan pengetahuan tanpa disuruh. Hasilnya ialah bahasa Melayunya semakin hari semakin bagus.
9. Mencintai
Selepas kita mengenali nikmat dalam bahasa Melayu, tumbuh satu perasaan di dalam benak hati kita, iaitu cinta terhadap bahasa Melayu, iaitu cinta sejati yang suci dan abadi. Pada peringkat ini, bahasa Melayu sudah menjadi sesuatu yang tidak dapat ternilai, dan kita juga tidak dapat terpisah daripada bahasa Melayu. Keinginan dan niat untuk melakukan sesuatu bahasa Melayu juga akan tumbuh sesudah kita benar-benar mencintai bahasa Melayu.
Perasaan cinta ini merupakan perasaan peribadi. Kita mencintai bahasa Melayu seperti kita mencintai, misalnya, alam semulajadi, tanah air, bangsa, dan agama kita, bukan sekadar perasaan sayang yang akan pudar setelah demam cinta itu hilang. Perasaan cinta terhadap bahasa Melayu ini sudah menjadi cinta yang berakar dalam nurani kita, kerana kita juga sudah mengenali nikmat bahasa Melayu. Dan perasaan cinta ini juga diharapkan agar membawa kita kepada peringkat yang terakhir, iaitu ‘menjiwai/menghayati’.
10. Menjiwai/Menghayati
Orang yang menjiwai bahasa Melayu ialah orang yang berjiwa bahasa Melayu. Dengan kata lain, bahasa Melayu sudah menjadi sebahagian daripada jati dirinya yang tidak akan terpisah daripada dirinya. Pada peringkat ini, lahirlah kesedaran dan keyakinan bahawa ‘jika bahasa Melayu mati, bangsaku juga akan mati’. Dengan demikian, orang yang berjiwa bahasa Melayu juga sentiasa didorong oleh satu kesedaran bahawa dia harus melakukan sesuatu untuk bahasa Melayu. Tetapi apa yang dilakukan oleh orang yang berada peringkat ini semuanya akan berhasil, kerana dia sudah menguasai bahasa Melayu dan mempunyai kemahiran-kemahiran yang diperlukan, baik dalam mengajar bahasa Melayu, menulis dalam bahasa Melayu atau segala kerja yang bersangkutan dengan bahasa Melayu. Orang yang menjiwai atau menghayati bahasa Melayu benar-benar dapat memahami cogan kata ‘bahasa jiwa bangsa’, kerana bahasa Melayu sudah menjadi jiwanya.
Rumusan
Sebagai rumusan, bagi orang yang hanya menggunakan bahasa Melayu dari peringkat 1 ke peringkat 5, bahasa Melayu hanya merupakan ‘bahasa mulut’, manakala jika kita mencapai tahap 6 dan 7, barulah bahasa Melayu menjadi ‘bahasa otak’. Selanjutnya, pada peringkat 8 dan 9, bahasa Melayu sudah menjadi ‘bahasa hati’, dan akhirnya bahasa Melayu menjadi ‘bahasa jiwa’ di peringkat terakhir.
Daripada penjelasan di atas, jelaslah bahawa kebanyakan masalah yang berkaitan dengan bahasa Melayu di Patani berlaku kerana bagi kebanyakan orang Melayu Patani, bahasa Melayu hanya berfungsi sebagai bahasa mulut, belum lagi mejadi bahasa otak, dan masih terlalu jauh untuk menjadi bahasa jiwa. Dengan demikian, apabila ada bahasa lain yang lebih dominan, bahasa Melayu dengan begitu mudah digantikan dengan bahasa-bahasa seperti itu. Itulah sebabnya bahasa Inggeris masih dapat berleluasa di Malaysia, dan bahasa Thai semakin menjadi pilihan bagi orang Melayu Patani.
Untuk mempertahankan bahasa Melayu pada abad ke-21 yang penuh dengan cabaran ini, kita perlu meningkatkan penguasaan bahasa Melayu seseorang. Sekurang-kurangnnya kita harus menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa otak, kerana selagi bahasa tidak dikaitkan dengan otak kita (iaitu organi manusia yang membolehkan manusia berfikir dengan akal), kita tidak dapat menjiwai dan menghayati sesuatu bahasa dengan sepenuhnya.
Nota: Artikel ini berdasarkan ucapan yang disampaikan oleh penulis sebagai penutupan forum “Generasi Baru dengan Komunikasi Bahasa Melayu” pada tanggal 7 Februari 2016 di Hotel Park View, Pattani, Thailand.
By Hara Chintaro
Referensi sumber diulas dari links :-
.........................................................
https://www.facebook.com/notes/hara-shintaro/20160209-10-tahap-untuk-memajukan-bahasa-melayu-patani-demi-kemandirian-bahasa-d/10201603868614469

Minggu, 07 Februari 2016

MAHASISWA PATANI THAILAND SELATAN SENANG BELAJAR DI PEKANBARU

AMPERA PATANI - Zulkifli, mahasiswa Universitas Islam Riau. Ia berkewarganegaraan Thailand, dan Zulkifli lahir dan besar di provinsi yang berbatasan dengan Malaysia, Thailand Selatan. Bagi sebagian orang yang tahu, mereka merupakan suku asli sana, menyebut dengan Patani.
Zulkfili menceritakan, penduduk Patani mayoritas beragama Islam dengan suku bangsanya Melayu. Warga Patani, tuturnya, masih satu rumpun dengan Indonesia, Malaysia juga Brunei Darussalam.
Laki-laki puluhan tahun ini sudah sejak 2013 lalu menuntut ilmu di Pekanbaru. Selain kuliah, ia ingin mengenal lebih banyak tentang Indonesia. Zulkifli ingin belajar banyak dari Indonesia dengan kulturnya yang santun, agamis serta menghargai perbedaan sebagai tradisi asli bangsa.
Ia melihat, Indonesia merupakan negara percontohan bisa dijadikan laboratorium kerukunan. Sebuah negara dengan beragam perbedaan, namun santun dan saling menghargai satu sama lain.
"Indonesia adalah negara yang unik. Di sini, berbagai perbedaan bukan menjadi sebuah masalah seperti halnya di daerah lain. Perbedaan di sini malah menjadi alasan satu sama lain saling menghargai dengan apa dimilikinya masing-masing," komentarnya tentang kebhinekaan saat bincang-bincang dengan? RIAUONLINE.CO.ID.
Ketika ditemui, ia sedang bersantai sambil memegang buku sejarah orang Patani. Ia duduk di sebuah bangku di pelataran rumah. Ada beberapa kawannya yang lain di dalam rumah mereka tempati selama ini.
Mahasiswa Patani lainnya sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang belajar, ada mengobrol, ada juga tidur dan bermain smartphone mereka. Perilaku dan tingkahnya sama seperti mahasiswa Indonesia umumnya ketika jauh dari orangtua.
"Kita sudah terbiasa hidup jauh dari orangtua dan keluarga. Mereka yang ada di sinilah sebagai keluarga kami sekarang. Kami bersaudara walaupun tak terikat hubungan darah. Kami bersama walau tak dibesarkan bersama," tutur ZUlkifli.
Di Pekanbaru, mahasiswa Patani membuat sebuah organisasi paguyuban. Mereka menamakannya Persatuan Mahasiswa Islam Patani Thailand Selatan (PMIPTI) Pekanbaru.
Paguyuban ini ada menaungi sebagian besar kota-kota di bagian barat Indonesia. Untuk di Sumatera sendiri, Zulkifli menjelaskan, hanya di Bangka Belitung dan Sumatera Barat saja yang tak ada paguyuban Patani ini. Mahasiswa Patani ada di sana, namun jumlahnya kecil untuk mendirikan PMIPTI.
Kesehariannya, organisasi ini hanya mengadakan agenda-agenda rutin biasa. Misalnya, pengajian atau diskusi rutin. Dalam agenda rutin mereka lakukan, tak jarang mereka mengundang tamu lain dari organisasi mahasiswa atau pemuda Pekanbaru guna bergabung dengannya.
Sesekali mereka juga membuat acara dengan mengundang masyarakat sekitar. Seperti ketika syukuran ulang tahun PMIPTI. Organisasi mahasiswa Patani di Pekanbaru lahir sejak 25 Agustus 2012. Tiap tanggal ini Zulkifli dan yang lainnya merayakan hari jadi PMIPTI.
Terhitung tahun ini, pada 25 Agustus 2016 mendatang, PMIPTI Pekanbaru genap berusia 4 tahun. Masih terbilang muda memang. Maka wajar jika menurut Zulkifli, PMIPTI di Pekanbaru ini belum banyak dikenal oleh masyarakat dan mahasiswa luas. "Masih belum banyak yang kami kenal di sini. Kami juga belum tahu banyak di Pekanbaru ini," katanya jujur dengan sedikit segan.
Dari 69 anggota PMIPTI di Riau, masih ada belum mengerti dan fasih berbahasa Indonesia. Bahkan, Zulkifli sendiri, sudah di Riau sejak 2013 lalu, terkadang masih kesulitan berkomunikasi dengan orang Indonesia yang berbahasa Indonesia.
"Kami sadar kalau alasan kurangnya kemampuan komunikasi menjadi alasan kenapa kami sulit membangun silaturahmi dengan masyarakat luar. Karena dari anggota kami sendiri, banyak belum bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Kalaupun bisa, kemampuan mereka hanya berada pada tahap mengerti ucapan, tapi sulit mengucapkan balik," kata lelaki berumur 23 tahun ini.
Ia mengatakan, ketika baru itu tidak langsung ke Riau, tapi Yogyakarta terlebih dulu. Di sana, ia kuliah di UIN Sunan Kalijaga dengan mengambil program studi Teknik Informatika. Setelah setahun, barulah pindah ke Pekanbaru. Ketika itu, hanya ada 10 mahasiswa Patani di sini.
Tujuan ia hijrah untuk membangun PMIPTI lebih banyak di Indonesia supaya lebih banyak orang Indonesia yang bisa mengenal Patani lebih dekat.
"Sekarang setelah beberapa tahun semakin banyak mahasiswa asal Patani yang berkuliah di sini. Di Pekanbaru saya kemudian mengulang studi dari awal lagi. Kami semua berkuliah di UIR karena lebih mudah perizinannya dibandingkan perguruan tinggi lainnya," kata mahasiswa Teknik Perminyakan yang kini duduk di tahun ketiga.
Selain itu PMIPTI juga aktif menjalin komunikasi mahasiswa antar negara. Misalnya dengan mahasiswa asal Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam dan Singapura. Kerap kali mereka bahkan mengadakan acara bersama meningkatkan kualitas komunikasi mereka antar satu dan yang lainnya.

Referensi sumber diulas dari links:-
..........................................................