This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 09 Februari 2019

Peristiwa Duka Masjid Kerisik, Atau Masjid Sultan Muzaffar Shah

Masjid Kerisik atau Masjid Sultan Muzaffar Shah, masjid Kerisik dalam bahasa Thailand dikenali Krue Se Mosque atau Pitu Krue-ban Mosque, terletak di Wilayah Patani.
Kerisik adalah perkataan Melayu yang bererti pasir di kawasan pantai yang berwarna putih bagaikan mutiara. Pada zaman dahulu, apabila orang-orang Arab berlayar sampai ke pantai ini, mereka menamakan kawasan ini “lu lu” atau “mutiara” dalam bahasa Melayu. Perkataan ini kemudiannya menjadi nama kepada sebuah kampung, pada masa ini dikenali dengan panggilan “Tanjung Luluk” yang terletak di Wilayah Patani.
Nama resmi Masjid Kerisik adalah “Masjid Sultan Muzaffar Shah”. masjid ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara dibina dengan menggunakan bata merah buatan kampung Tarab Bata, sekarang di kawasan Gamia Daerah Muang Wilayah Patani.
Binaanya mengikut senibina Timur Tengah. Cara penyusunan batanya dilakukan dengan menggunakan campuran kulit kerang dengan beras pulut hitam yang ditumbuk lumat kemudiannya dicampurkan bahan tersebut dengan adonan telur putih dengan manisan cair. Cara ini merupakan salah satu kebijaksanaan Melayu temptan pada masa itu.
Masjid ini dibangunkan pada zaman Sultan Muzaffar Shah pada tahun 2057 B.E / 1514 A.D (Anan Watananikorn 2531 : 64) mengikut saranan Syeikh Shafiyuddin Al-Abbas (ulama Fiqih yang digelar Dato’ Faqih Diraja). Setelah selesai pembinaannya, Masjid Kerisik ini dianggap sebagai Masjid Rasmi Kerajaan Melayu Patani Darussalam. Selain daripada berperanan sebagai tempat ibadah, di sini juga dijadikan pusat hal ehwal agama Islam dan juga sumber pengajian berbagai-bagai bidang ilmu berkaitan Islam.
Kesan keruntuhan yang jelas kelihatan pada bagian kubahnya itu akibat daripada peperangan yang berlaku di antara Patani dan Siam/Thailand pada Julai – November 1786 (Zamabai A Melik : 1993 : 96). Meskipun masa telah berlalu selama 5 abad, Masjid Kerisik masih tegak bertahan sebagai tempat yang sangat bernilai dari sudut sejarah, kesenian dan seni bina sejak dahulu sampailah sekarang.
Pada 28 April 2019, sudah 15 tahun tragedi Majid Kerisik (Kruse Mosque) berlalu dan yang pasti kenangan pahit ini tidak akan hilang di hati rakyat Patani. Mereka kehilangan saudara-mara dengan sekelip mata sahaja dan ada juga yang cacat kekal, sehingga sekarang menurut masyarakat setempat, pembunuhnya tidak dapat dikesan oleh pihak berkuasa sehingga sekarang.
Masjid Kerisik merupakan sebuah masjid di Wilayah Patani yang menjadi tumpuan masyarakat setempat untuk beribadat. Peristiwa berdarah yang berlaku pada (28 April 2004) sewaktu masyarakat selesai menunaikan solat fardhu, dengan tiba-tiba di kepung oleh tentera Siam/Thailand, jemaah masjid tidak dibenarkan keluar dalam tempoh masa yang lama sehingga tembakan bermula yang bukan hanya dari tentera malah juga bom dari helikopter Apache yang dijatuhkan kedalam kubah masjid.
Dapat dibayangkan situasi pada masa itu, rakyat yang tidak berdosa dibunuh sebegitu rupa yang cukup menggambarkan kekejaman pihak tentera dan kerajaan Thailand pada masa itu sehingga mengorbankan sejumlah 108 nyawa anak muda dan orang tua yang tidak berdosa. Bukan hanya membunuh, malah penduduk diugut oleh ketua tentera dengan menggunakan speaker masjid  agar memberitahu bahawa yang melakukan ini adalah kelompok pemisah jika ditanya dari luar.

Editor : Media Informasi News (MIN).






Jumat, 08 Februari 2019

Pakaian Melayu Patani (Thailand Selatan)

Budaya Melayu Patani pasca 1902 adalah budaya yang terbuka tanpa dipimpin. Keterbukaan itulah yang menyebabkan kebudayaan Melayu Patani menjadikan anak bangsanya sendiri tidak mengenali yang mana budaya Melayu Patani dan yang mana budaya bangsa asing, kerana terdididik dibawah dasar pendidikan kebangsaan Siam.
Keterbukaan inilah sebagai salah satu khasanah budaya Melayu Patani sekarang bercampor aduk dengan budaya bangsa asing yang dibawa sendiri oleh anak-anak Patani. Sebab itu, orang melayu Patani beranggapan bahwa budaya Melayu Patani bagaikan pelangi atau taman bunga yang penuh warna warni, ada budaya Arabnya, budaya Bangldeshnya, budaya Siamnya dan sebagainya. Sedangkan khasanah budaya Melayu Patani sarat dengan nilai-nilai “jatidiri” kemelayuan Patani yang asli yang memiliki pakaian budaya Melayu Patani yang indah dan cantik mata memandangnya.
Budaya Melayu Patani menjadi simbol (lambang) dan falsafah pertuanan bangsa asal penduduk Patani. Khazanah budaya Melayu Patani yang bernilai itu dapat disimak kembali dari cara berpakaian, alat dan kelengkapan upacara kebudayaan, dari alat dan kelengkapan pakaian Melayu, dari bentuk dan ragam hias rumah, dari alat dan kelengkapan ruamah tangga, dari ungkapan-ungkapan budaya (pepatah melayu lama, bidalan, ibarat, perumpamaan, pantun, gurindam, seloka, syair dll).
Dari sisi lain, keterbukaan budaya Melayu Patani tidaklah bermakna “terdedah tanpa penapis”, sebab adat budaya Melayu Patani menjadi salah satu penapis utama dari pengaruh unsur-unsur negatif budaya bangsa asing adalah ditapis nilai-nilai Islam anutan warga Parani yang senantiasa menyaring dan membersihkan setiap unsur budaya bangsa asing yang masuk ke Patani secara Islami.
Kempin berpakaian buday Melayu Patani di hari raya ini dan hari-hari kebesaran agama dan majlis tertentu sangat patut dan layak kita generasi sekarang menghidup dan memperkasakan pakaian kebudayaan bangsa kita sendiri, agar kita tidak “Manjadi Kacang Lupakan Kulitnya”.
Editor : Media Informasi News (MIN).
_______________
Lihat Lanjut Disini :-






Kamis, 07 Februari 2019

Perang Intelektual Dalam Perdamaian Aceh


Oleh: Mudasseer  Slatasoh, Muhamadrofee  Maming, Buraidah  Chelong (Catatan Tiga Mahasiswa Asal Patani di Aceh).

Belajar dari perjuangan GAM yang berakhir dengan kesepakatan perdamaian yang biasa dikenal dengan MoU Helsinki, Kami mendapatkan empat Faktor yang membawa perdamaian tersebut: (1)Pergerakan Intelektual Aceh, (2) Keterlibatan Dunia Internasional, (3) Kebijakan Pemerintah Indonesia dan (4)Sikap Politik GAM.

Peranan Gerakan Intelektual Aceh

Peranan Gerakan Intelektual Aceh bermula dari para mahasiswa universitas dengan dukungan dosen dalam berdiskusi dan berbagi pengetahuan. Tujuan awal gerakan mahasiswa ini untuk menelurkan ide, pemikiran, Mobilisasi (massa) atau Demonstrasi, Lobby, dan Kampanye. Pada mulanya gerakan ini berjalan secara sembunyi-sembunyi di zaman Otoriter Suharto.

Universitas adalah tempat yang tepat untuk melakukan aktifitas dan diskusi mengenai isu-isu demiliterisasi, HAM, Demokrasi dan Perdamaian. Termasuk didalamnya mengalisa dinamika politik Indonesia di bawah presiden Soeharto. Sebab itu kaum intelektual Aceh terlibat dalam perubahan politik indonesia dari otoriterian ke demokrasi.

Selama Pemrintahan Soeharto, Politik indonesia dianggap sebagai Diktator. Rakyat Indonesia tidak memilki suara dalam hal politik pada saat itu. Karena itu, Mahasiswa berdemosntrasi untuk menjatuhkan Pemerintahan Soeharto. Intelektual Aceh juga mendorong gerakan ini bersama mahasiswa seluruh Indonesia. Para Intelektual aceh menyadari bahwa klaim politik tidak dapat dilakukan jika aturannya tidak demokratis. Hingga Akhirnya Pemerintahan soeharto dijatuhkan pada 1997.

Perubahan Politik ini memberi perubahan terhadap kebijakan politik aceh. Pemerintah Indonesai menghapuskan Status Daerah Operasi Militer (DOM) pada 7 Agustus 1998.

Kebijakan Pemerintah Indonesia

Setelah tahun 1998, Ketakutan rakyat terhadap pemerintah soeharto pupus. Presiden telah digantikan oleh BJ Habibi. Kebijakan Habibi adalah menekan desentralisasi dan mencoba membatasi peran militer dalam politik. Selanjutnya mengarahkan Komisi Hak Azasi Manusia Internasional untuk turun ke Daerah Operasi militer bagi menyelidiki kemungkinan penganiayaan di kawasan tersebut. Berdasarkan Hasil investigasi, presiden Habibie mengeluarkan perintah pembatalan Daerah Operasi Militer.

Setelah Abdul Rahman Wahid diangkat menjadi presiden dalam pemilu, suasana politik mengindikasikan politik yang terbuka kepada rakyat. Pendekatan yang lebih terbuka membuat kondisi politik Indonesia tampak seperti tidak pernah terjadi sebelumnya. Hal ini membuat Organisasi-organisasi mahasiswa baik di Jakarta Maupun Aceh mulai bangkit. Karena Pemerintah Indonesia yang sebelumnya membatasi hak-hak berekspresi dalam politik, kini menuju negara yang lebih demokratis.

Ruang publik semakin terbuka di tahun 1999. Rakyat dan Mahasiswa Aceh berkumpul untuk menuntut referendum dan kemerdekaan Aceh. Lebih dari Satu Juta Lima Ratus masyarakat berkumpul di Mesjid Raya Abiturrahman, untuk mengumumkan seruan penyelesaian masalah aceh secara adil dan demokratis.

Kebijakan Pemerintah Indonesia membuka Jalur perundingan sebagai usaha penyelesaian koflik aceh. Presiden Abdurrahman Wahid mengundang Hendry Dunant Center 9HDC) menjadi fasilitator dialog antara Pemerintah Indonesai dengan Pejuang GAM, pada Mei 2000.

Sikap Politik GAM dalam Menerima Dialog

Sikap Politik GAM terhadap negosiasi damai tidak dapat terjadi jika GAM tidak mampu bernegosiasi. Gerakan Aceh Merdeka dapat bergerak dalam berbagai cara. Hal ini berlaku karena Indonesia mulai menggunakan demokrasi sebagai dasar penetapan kebijakan.

Gerakan Aceh Merdeka bergerak cepat untuk menunjuk pemimpin delegasi yang berfungsi mencari solusi penyelesaian konflik aceh dengan cara dialog. GAM ingin menunjukkan kemampuan negosiasi  untuk mencapai keadilan bagi kedua belah pihak.

Dari Proses Di Pihak GAM ini, membuat kita melihat dengan jelas, Kesediaan GAM dalam dialog untuk mencari penyelesaian konflik yang berlarut2 ini. Sikap politik GAM terhadap negosiasi damai ini menjadi salah satu sebab Pemerintah rela untuk berdialog dengan GAM.

Di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan kebijakan Pemerintah yang jelas berpegang pada perdamaian tanpa menggunakan kekerasan dalam penyelesaian masalah, termasuk di dalamnya saling menghormati. Hal ini bukan sekedar kebijakan, tetapi ditunjukkan dalam implementasi pemerintah. Fakta ini membuat Pihak GAM percaya lebih banyak kepada pemerintah dan boleh menerima Negosiasi di Helsinki.

“Kesimpulan yang dapat kami ambil, bahwa Sikap politik pejuang GAM dipengaruhi oleh adanya political will Pemerintahan Indonesia." Ketika Pemerintah Indonesia terbuka untuk dialog, maka pihak pejuang dengan senang hati mengikuti.

Ditambah lagi Pihak penengah HDC turut meyakinkan Pejuang GAM untuk memulai dialog guna mengakhiri pera Aceh.

Keterlibatan Dunia Internasional

Keterlibatan dunia internasional terjadi setelah tekanan intelektual aceh. Intelektual Aceh ingin mennigkatkan skala konflik aceh menjadi masalah internasional.

Pada awalnya Intelektual aceh membentuk jaringan di tingkat universitas, membentuk ruang publik untuk menyebarkan informasi kepada rakyat indonesia mengenai apa yang sebenarnya terjadi di Aceh.

Hal ini dianggap menaikkan level konflik antara aceh dengan pemerintah Indonesia ditambah lagi dengan datangnya pemain baru, yaitu Aktivis-aktivis dan mahasiswa yang bergerak membangun isu-isu Aceh seperti pelanggaran HAM dan Kejahatan yang di lakukan pemerintah indonesia terhadap rakyat Aceh.

Setelah memiliki organisasi di berbagai kampus, intelektual aceh mulai membangun rangkaian jaringan dengan berbagai organisasi masyarakat di Indonesia, khususnya organisasi yang bergerak di bidang HAM. Karena itu Organisasi masyarakat memberikan dukungan dengan bekerjasama untuk menyampaikan informasi apapun terkait dengan konflik aceh.

Kerjasama di tingkat universitas dan organisasi masyarakat untuk mendorong Kampanye "Komite Dukungan Hak Asasi Manusia Aceh - Support Committee Human Right for Aceh" agar masyarakat Internasional dapat melihat dan menaruh perhatian terhadap pelanggaran HAM di Aceh.

Ketibaan organisasi internasional pada masa itu tidak dianggap sebagai intervensi di negara ini sama sekali, kareana Dunia internasional masuk untuk memperhatikan pelanggaran HAM dan hak serta kebebasan rakyat Aceh dalam ekspresi politik.

Secara lebih dalam dapat kita perhatikan, proses ini dimulai oleh intelektual Aceh yang umumnya dimulai dari kampus. Karena kaum intelektual dianggap sebagai asal proses pemikiran bagi semua orang. Jika pengetahuan diterapkan, orang akan melakukannya dengan cara berbeda-beda. Sebagian orang dapat mengorganisir pekerjaan kolektif dengan satu ideologi yang sama seperti yang terjadi pada masalah Aceh.

Rangkaian organisasi di jakarta yang mempublikasikan berbagai pelanggaran HAM di Aceh, didukung oleh kemauan rakyat untuk menunjukkan kengininan mereka di ruang publik dan menyatakan apa yang mereka fikirkan. Sudah tentu ruang publik ini menjadi bagian dari aturan demokrasi dimana setiap orang memiliki hak yang sama. Jika Pemerintah memberi peluang kepada rakyat untuk berbicara dan menyatakan kebutuhan mereka sendiri, maka akan membawa kepada dialog dan ide untuk membawa keamanan  bagi semua pihak.

Pembelajaran Dari Aceh Untuk Patani

Perkara yang harus deiplajari bagi Patani adalah berkumpulnya intelektual Aceh yang membawa perdamaian ke Aceh.

Saat ini Patani mempunyai banyak organisasi mahasiswa yang bergerak pada isu politik Patani. Namun yang menjadi perhatian saya adalah organisasi ini tidak bekerjasama karena perbedaan gagasan. Namun demikian organisasi-organisasi ini memilki tujuan yang sama yaitu menjadikan dialog sebagai jalan penyelesaian konflik bersenjata.

Karena Pergerakan Mahasiswa tidak berpotensi melobi pemerintah, Mahasiswa patani perlu bekerjasama menjadikan satu gerakan yang berfungsi dan berpengaruh di berbagai bidang. Bagaimanapun juga, hal pertama yang boleh dibagi adalah keterbukaan gagasan supaya terdapat ruang bagi para mahasiswa untuk berdialog dan bertukar gagasan. Jika Mahasiswa patani sudah bersatu, maka kerja selanjutnya adalah merangkai jaringan dengan organisasi di luar Patani. Hal ini untuk menyambung informasi kepada organisasi di dalam negara mengenai apa yang terjadi di kawasan Patani. Organisasi lokal akan menjadi corong bagi organisasi lain untuk menyebarkan informasi kepada masyarakat agar mereka memahami situasi Patani.

Jika informasi ini disebarkan, Dunia internasional akan menunjukkan minatnya terhadap isu ini. Forum internasional akan bekerja untuk menarik organisasi internasional masuk ke kawasan konflik. Baik itu informasi yang disampaikan oleh organisasi maupun berita yang beredar melalui media sosial, akan membuat negara lain menyadari apa yang terjadi di kawasan tersebut. Biasanya dunia internasional hanya menerima informasi dari sebelah pihak (misalnya Pemerintah saja), tentunya berita yang dikontrol pemerintah memberikan informasi yang tidak benar.

Sehingga, walau bagaimanapun,organisasi lokal harus terbuka untuk bekerjasam dengan berbagai organisasi di luar kawasan. Jika organisasi lokal tidak dapat menerima pendapat yang berbeda, maka penyelesaian konflik tidak akan berhasil dilakukan, karena konflik adalah sifat manusia.

Karena itu Bekerjasama adalah perkara yang paling penting. mencapai tujuan bersama bagi benyak organisasi. Sudah barang tentu, konflik ingin diselesaikan dengan negosiasi antara berbagai pihak. Masyarakat ikut terlibat guna memastikan suara mereka dipertimbangkan.

Sumber : Dialeksis, 06 Februari 2019.

Derita Panjang Muslim Melayu Patani Di Selatan Thailand (Renungan Buat Kita Yang Mayoritas)


Di tengah kegembiraan kita sebagai muslim mayoritas di dunia, di sebuah negeri yang sebentar lagi akan melaksanakan pesta demokras. Pemilihan Presiden dan Legislatif/parlemen.

Sungguh beruntung bangsa-bamgsa Melayu Austronesia di negeri ini berhasil mendirikan sebuah negara yang bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang setiap 17 Agustus bergembira merayakan hari kelahirannya.

Begitu juga bangsa Melayu Austronesia di Malaysia dan Brunei Darussalam, mereka bahagia punya negara sendiri.

Tapi sungguh malang nasib saudaranya di Selatan Thailand, setiap kali saudaranya, atau kakaknya yang kesatu (Indonesia) dan kakaknya yang kedua ( Malaysia) merayakan kemerdekaannya di bulan Agustus, mereka menangis menjerit-jerit.Sedih, pilu, tak terahan, karena menahan sakit, menahan derita yang begitu panjang.

Semenjak Perjanjian Anglo-Siam pada tahun 1909 M, wilayah semenanjung dibagi kue oleh Inggris dan Thailand, sebagian menjadi jajahan Inggris yang kemudian merdeka menjadi negara di Diraja Malaysia, sebagian lagi diberikan kepada Thailand, yaitu wilayah yang dulunya merupakan wilayah Kerajaan Islam Patani meliputi hampir seluruh bagian Thailand Selatan sekarang.

Namun dengan kebijakan pemerintah Thailand, terutama semenjak pemimpin Ultra Nasional Phibul Shongkram yang melakukan program asimilasi dan migrasi, wilayah Patani semakin mengecil, di huni sekitar 4 juta Muslim Melayu, di empat wilayah yaitu Patani, Narathiwat, Yala, dan lima Distrik di Provinsi Songkla.

Selama beratus-ratus tahun mereka mempertahankan identitas ke-Islaman dan kebudayaan Nusantara. Selama itu pula penindasan dari pihak militer Thailand dan pemerintah Thailand yang bersifat mendua dialami saudara Muslim Melayu di Wilayah Selatan.

Muslim di sini diperlakukan diskriminatif dari berbagai segi: pendidikan, ekonomi, dan terutama hukum. Nyawa muslim di sini tidak ada harganya, bagaikan binatang, penembakan tanpa alasan sering terjadi, penculikan oleh pihak tentara sudah biasa, penghilangan nyawa tanpa sebab pun sering terjadi, penggeledahan rumah penduduk dan lembaga pendidikan terutama Pondok sering dilakukan.

Kehidupan anak-anak, dan masyarakat sipil setiap hari dipenuhi ledakan bom, tembakan bedil, pembunuhan yang tiba-tiba, dan dihiasi tank-tank dan moncong laran panjang bedil-bedil tentara Thailand.Tidak sedikit orang yang sedang sholat dan ibadah di sebuah mesjid tiba-tiba diberondong senjata api tentara hitam yang mabuk, bergelimpangan lah mayat Muslim tak berdosa.

Kekerasan demi kekerasan setiap hari disaksikan anak-anak Muslim Melayu Patani. Pelanggaran HAM begitu banyak di wilayah ini. Lebih dari 6000 orang telah tewas dan 10.000 terluka antara 2004 sd 2014, lebih dari 5000 wanita menjadi janda, dan sebanyak 2000 lebih anak-anak menjadi yatim piatu. Belum harta dan kekayaan.

Peristiwa yang menimpa saudara kita di Patani, hendaklah menjadi bahan renungan buat kita yang mayoritas, bahkan negara terbesar dan terbanyak penduduk muslim di dunia.

Kita sekarang asyik saling menjatuhkan dan menjelekkan sesama Muslim karena sebab Pilpres dan Pileg. Padahal kita ini saudara. Semoga ummat Islam di negeri ini tidak pecah berantakan sebagaimana dikehendaki oleh orang-orang yang memusuhi Islam, dan bangsa-bangsa yang ingin menguasai negi yang sangat kaya akan sumberdaya alamnya ini.

Sadarlah bahwa saudara kita di Palestina, Suria, Myamar, Patani, Afrika Tengah, dst sangat menunggu pertolongan kita yang mayoritas dan kaya akan sumber daya alam Semoga persatuan Dalam Ummat Islam tetap terjaga. Amiin ya Allah.

Sumber : Asep Achmad Hidayat, 02 Februari 2019.
Photo : Turanisia.

101 Tahun Sekolah TADIKA di Patani


Pertumbuhan lembaga pendidikan untuk anak-anak di Patani, Thailand Selatan ini meranjak usia sekitar 101 tahun, TADIKA singkatan dari “Taman Didikan Kanak-kanak” merupakan wadah atau lembaga masyarakat yang menyelenggara dalam pendidikan keagamaan dan kebudayaan Melayu bagi kanak-kanak yang memiliki identitas Melayu dan agama Islam di wilayah-wilayah selatan Thailand ini semua melewati lembaga tersebut.

Pada tahun 1918, seorang pelancong dari Johor ( Salah satu Negeri Persekutuan Malaysia sekarang) memasuki di Patani, Ia membuat catatan apa yang dilihatnya selama di Patani. Seketika ia berada di daerah BaNa, Sunggai panae, Distrik Muang hari ini, dia terkagum karena belum pernah melihat Seluruh Nusantara (di wilayah Semenanjung Melayu) yang mengadakan pendidikan kepada anak-anak.

Di masa lalu, pelajar kebanyakan di kalangan orang muda dan tua, Anak-anak jarang belajar, hanya belajar Al-Quran, Namun apa yang dilihatnya di sana ia mencatakan dalam bahasa Melayu Jawi, "ÙŠÚ  بلاجر دودوق اتس بڠكو اد ميجا ÙŠÚ  مڠاجر برديري ڬونا ڤاڤن", artinya “Yang belajar duduk diatas meja yang mengajar berdiri di Papan tulis”, Itu yang dia tulis, Anak-anak duduk di meja, ada meja dan kursi, guru berdiri untuk mengajar, sulit untuk melihat bahwa guru agama berdiri untuk mengajar, sedangkan kerapkali memakai sistem pengajaran Islam kuno Baik instruktur maupun pelajar duduk di lantai.

Jenis pengajaran ini disebut sekolah, 5 hari pengajaran dan pembelajaran yang merupakan pengajaran sistematis Tidak ada sistem pondok, tetapi adalah sistem kelas Di sini disebut sekolah bukan bahasa Arab.

Kata Sekolah berasal dari bahasa Turki ‘sekola’, tetapi bahasa Inggris disebut School sampai 1949, pemerintah baru saja mulai membangun sekolah akedimik di wilayah tersebut, namun sekolah-sekolah di kota itu sudah ada di Patani, (Yaitu Sekolah Benjamarachuthit) tetapi masih tidak menyebut sekolah saat ini seperti sekolah tinggi Yang dibangun pemerintah pada 1917 sebelum Tadika 1 tahun.

Justeru Ketika pemerintah Thailand membangun sekolah dasar di masyarakat dan daerah Pemerintah telah membuat sekolah besar sejak era 1949, Karena itu membuat orang Patani memanggil sekolah Thailand, manakala Tadika itu disebut Sekolah Melayu, sehingga ada perbandingan antara Sekolah Melayu dan sekolah Thailand yang baru dibangun.

Saat membandingkan Karena itu mengakibatkan muncul tentangan di kalangan warga dan pemerintah, ketika pemerintah Thailand membangun sekolah dasar sebelum memanggil sekolah Thailand (Disebut sekolah dasar kemudian),Pembangunan sekolah dasar tidak berhasil dan populer di kalangan warga Patani. Akhirnya, pemerintah Thailand melarang sekolah-sekolah Melayu (perintah tertutup) , tuntutan penutupan menyebabkan konflik itu dimulai dengan kekerasan semasa perdana Pibul Songkram. 

Keresahan dan Desakan warga Patani sehingga muncul kasus menangkap guru-guru Tadika, menculik guru, sampai pemerintah Thailand tampaknya lebih bermasalah. Akhirnya juga diperintahkan untuk dibuka kembali Karena Kementerian dalam Negeri mengumumkan peraturan Peraturan tentang pendidikan dan pendidikan yang ketika dibuka kembali, ada syarat yaitu 1, jangan panggil sekolah Melayu (semasa itu, kata Melayu juga dilarang).

Kemudian Pada tahun 1951, sekolah tersebut diguna dengan nama TADIKA, karena dilarang memanggil sekolah-sekolah Melayu, Karena itu merupakan kata baru, istilah baru yang disingkat dari Taman Didikkan Kanak-kanak, nama ini berasal dari menyalin sekolah-sekolah Inggris yang membangukan buat kanak-kanak Melayu di Pulau Pinang (Penang, Malaysia) untuk belajar.

Setelah itu, Tadika tersebut harus belajar pada hari-hari yang tidak normal Sekolah Thailand, Sekolah Thailand membuka pada hari Senin hingga Jumat, sedangkan sekolah TADIKA Hanya hari Sabtu dan Minggu, adapun mata pelajaran lain seperti Sejarah Sosial, Matematika, Mata Pelajaran akademik di Dunia, telah dipotong selama 2 hari, hanya ada waktu untuk belajar agama dan bahasa Malayu dasar.

Sekolah-sekolah Melayu hanya dipanggil secara lisan bagi warga daerah tersebut, namun Tadika sebagai nama resmi Thailand untuk dihindari kata-kata Melayu yang tersirat dengan identitas nasionalisme Melayu Patani. Secara tidak sadar, pemerintah Thailand mencoba untuk mengapuskan identias dan jati diri bangsa Melayu Patani, sehingga mereka lupa akan bahasa ibunda sendiri, yaitu bahasa Melayu.

Sumber : TUNAS Online, 05 Februari 2019.

Sabtu, 02 Februari 2019

Menolak Lupa : Genap 5 Tahun Penembakan Yang Dilakukan Oleh Tentera Thailand Keatas Warga Sipil Patani (Thailand Selatan)


NARATHIWAT - Mengingat kembali peristiwa penembakan yang di lakukan oleh sekumpulan tentera Thailand keatas warga sipil Patani (Thailand Selatan), kejadian ini berlaku di kawasan rumah Muqim Beluka Perak Daerah Bachok Wilayah Narathiwat, pada (03/02/2014), pukul 21:00 pm.

Masyarakat tempatan mengatakan, sekumpulan tentera Thailand melakukan operasi dan menembak warga sipil (Thailand Selatan) yang terdiri dari 5 orang ahli keluarga, menyebakan 2 cedera parah, dan 3 maut ditempat kejadian.

Keluarga ini ditembak oleh tentera Thailand, saat mereka pulang dari masjid setelah menunaikan sholat fardu insya.

Keterangan nama-nama mangsa yang maut dan cedera, yaitu : (1) Cikmud Madman usia 41 tahun (cedera), (2) Fadilah usia 34 tahun (cedera), (3) Mujahid usia 11 tahun (maut), (4) Bahari usia 9 tahun (maut), dan (5) Ilyas usia 6 tahun (maut).

“Ketika pulang dari masjid, terlihat ada sekelompok orang yang mengunakan seragam hitam dan dilengkapi dengan senjata api, mereka bersembunyi di sebalik pohon-pohon di sekitar rumah tersebut” kata Cikmud Madman, selaku bapak rumah tangga

Rumah mereka hamper 200 lubang bekas tembakan yang dilakukan oleh tentera Thailand, penembakan dilakukan dengan mengunakan senjata api laras panjang jenis M.16.

“Fadilah, selaku ibu rumah tangga, beliau cedera akibat ditembak ketika sedang mengandung seorang bayi yang berusia 3 bulan” tambah Cikmud Madman

Keganasan yang sering terjadi terhadap anak-anak kecil di Patani (Thailand Selatan) berpunca daripada penembakan sewenang-wenang yang dilakukan oleh tentara Thailand, ada juga yang dilakukan oleh penembak-penembak upahan tentara Thailand, penembakan ini merupakan taktik adu-domba.

Sasaran penembakan sewenang-wenang ini dilakukan, kebanyakan tempat umum, seperti kedai, masjid dan yang paling banyak adalah rumah-rumah warga sipil.

Kekejaman yang terjadi di Patani (Thailand Selatan) tidak hanya selesai disitu, bahkan masih terjadi hingga hari ini, cuba kita bayangkan bertapa mirisnya tersebut.

Editor : Media Informasi News (MIN).
Photo : Simpanan Penderitaan Patani.




Menolak Lupa : Genap 15 Tahun Tentera Hitam Thailand Melakukan Perkosaan, Penembakan dan Pembakaran


YALA – Mengingat kembali peristiwa yang di lakukan oleh sekumpulan tentera hitam Thailand keatas warga sipil Patani (Thailand Selatan), kejadian ini berlaku di kawasan Basa Lapan Muqim Patae Daerah Yaha Wilayah Yala, pada (01/01/2004), pukul 20:30 pm.

Masyarakat tempatan mengatakan, sekumpulan tentera hitam Thailand melakukan operasi dan membunuh warga sipil (Thailand Selatan) yang terdiri dari 4 orang ahli keluarga.

Bagi mangsa wanita di perkosa (rogol) oleh tentera hitam Thailand sebelum dibunuh, bagi laki-laki langsung dibunuh dengan mengunakan senjata api, dan rumah mereka dibakar hingga hangus.

Keselamatan di Patani (Thailand Selatan) semakin hari semakin berkurang, bahkan pembunuhan semakin banyak terjadi, sebagai mana  yang telah terjadi beberapa waktu yang lalu di sebuah perkampungan di wilayah Thailand Selatan, pada (01/01/2004), pukul 20:30 pm.

Satu pasukan tentera memasuki perkampungan dan menuju sebuah rumah, lalu tentera hitam Thailand melakukan penembakan keatas ahli keluarga.

Dalam rumah tersebut, ada seorang anak wanita yang dapat menyelamatkan dirinya, namun yang satu lagi ditangkap oleh tentera hitam Thailand dengan dengan tidak ada perikemanusiaan dan perikeadilan, wanita yang ditangkap diperkosa (rogo) dan dibunuh.

Sedangkan, ibu berhasil melarikan diri menuju rumah adiknya, ibu pensan dan tidak sadar diri ketika melihat anaknya ditembak, setelah ditembak ditutupi dengan kain selimut dan dibakar oleh tentera hitam Thailand.

Sebelum pasukan tentera hitam Thailand meninggalkan tempat kejadian, mereka melakukan penembakan keatas rumah secara bertubi-tubi, dan rumah tersebut dibakar hingga hangus.

Kekejaman yang terjadi di Patani (Thailand Selatan) tidak hanya selesai disitu, bahkan masih terjadi hingga hari ini, cuba kita bayangkan bertapa mirisnya tersebut.

Editor : Media Informasi News (MIN).
Photo : Simpanan Penderitaan Patani.