This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 06 Februari 2016

LIDIA ADALAH GURU BAHASA MELAYU ASAL ACEH DI PATANI

AMPERA PATANI - Maulidia Adinda saat ini sedang berada di Thailand. Dia berada di negeri berjuluk Gajah Putih, tepatnya di Thailand Selatan. Kehadiran perempuan asal Aceh itu dalam rangka melakukan program guru pendamping tentang pendidikan perdamaian dan menggalakkan penggunaan bahasa Melayu.
Program tersebut merupakan kerjasama antara Aceh Civil Society Task Force (ACSTF) di Aceh dengan NGO di Patani, yaitu Bunga Raya Group. Bunga Raya Group merupakan NGO yang fokus di bidang pendidikan dan intelektualitas.
“Program ini sebenarnya bertujuan untuk menjadi model pendidikan perdamaian dan juga menggalakkan penggunaan bahasa Melayu sebagai identitas masyarakat Pattani,” kata Lidia, panggilan akrabnya saat dihubungi Kanal Aceh, Minggu (24/1).
Sejak 25 November 2015 lalu, Maulidia mengajarkan program tersebut di sekolah Tadika (Taman Pendidikan Kanak-Kanak) untuk siswa kelas tiga sampai enam atau setingkat dengan sekolah dasar yang ada di Indonesia. “Saya bertugas di dua sekolah, yaitu sekolah di wilayah Patani dan Narathiwat,” lanjutnya.
Alumnus Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Unsyiah itu menjelaskan ia memilih untuk mengajar di daerah tersebut karena pada dasarnya masyarakat Thailand Selatan adalah bangsa Melayu.
Tapi, Lidia mengaku lama-kelamaan masyarakat di kawasan Thailand Selatan, seperti Patani, Narathiwat, Yala, Songkla, dan Setun mulai melupakan identitas diri mereka sebagai Melayu.
Penggunaan bahasa Melayu di lima wilayah itu hanya dipahami oleh masyarakat Thailand Selatan saja. “Bahasa melayu mereka sulit dipahami oleh orang Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam,” ucapnya.
Faktor mereka melupakan identitas Melayu karena masyarakat Thailand Selatan memiliki sejarah konflik dengan kerajaan Thailand (Siam). Lidia menceritakan konflik kerajaan Thailand (Siam) dengan masyarakat Thailand Selatan sudah terjadi sangat lama, sehingga masyarakat Thailand Selatan mulai kehilangan identitas Melayu.
Bahkan, menurut Lidia konflik tersebut hampir sama seperti konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Republik Indonesia (RI) di Aceh dulu. Yang membedakannya, konflik di Thailand Selatan itu tidak dianggap sebagai isu internasional, hanya isu lokal saja.
“Saya adalah generasi yang pernah hidup di zaman konflik dan hidup di zaman damai. Saya di sini (Patani dan Narathiwat) ingin menceritakan soal respons dan penyelesaian konflik sosial kepada masyarakat dan anak-anak sekitar bahwa ada sisi positif yang diperoleh pascadamai Aceh, yaitu tidak lagi hidup dalam ketakutan,” ujar perempuan kelahiran 19 Agustus 1993 itu.
Konflik yang terjadi di wilayah Thailand Selatan, kata Lidia, adalah konflik yang dilakukan oleh gerakan separatis, di mana warga setempat menginginkan kemerdekaan atas wilayahnya. “Ada keinginan untuk memisahkan diri dari negara induknya (Thailand),” ungkapnya.
Lidia tidak berangkat sendiri. Ia bersama empat teman lainnya mengajar hingga akhir Maret atau awal April 2016 mendatang dan ditempatkan di berbagai wiliayah yang ada di Thailand.
Perempuan asal Sigli itu berharap program tersebut dapat memperkuat solidaritas di antara sesama masyarakat di Thailand Selatan, khususnya Patani dan Narathiwat.
“Selain itu, dengan belajar bahasa Melayu, mereka bisa lebih mudah berinteraksi dengan masyarakat Melayu nusantara,” katanya. [Aidil Saputra]
Referensi sumber diulas dari links :-
......................................................... http://www.kanalaceh.com/2016/01/24/lidia-guru-bahasa-melayu-asal-aceh-di-pattani/

Senin, 25 Januari 2016

MEMBANGUN KESEPAHAMAN MELAYU NUSANTARA

AMPERA PATANI - Dari beberapa hari yang lalu kami melakukan perjalanan ke Thailand Selatan, tepatnya Provinsi Patani. Masyarakat Indonesia banyak yang belum mengetahui bahwa di Patani, semenjak daerah ini dikuasai oleh Kerajaan Siam (Thailand sekarang) kerap kali terjadi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pihak militer setempat terhadap bangsa Melayu (bangsa asli Patani) di sana.
Patani dijajah Siam sejak 1875. Mulai sejak itu kebebasan hidup juga beragama dibatasi di sini. Puncaknya adalah peristiwa pembantaian yang terjadi pada 14 Oktober 2004 di Tak Bai (salah satu daerah di Patani).
Peristiwa Tak Bai menimbulkan luka mendalam bagi rakyat Patani. Tak kurang dari 300 orang dibunuh (data infreed) pada peristiw tersebut.
Mulai sejak peristiwa itu, militer Thailand memberlakukan operasi yang ketat terhadap rakyat Patani. Hal itu bisa dilihat dari pengamanan dijalanan yang begitu berlebihan (per 500 m ada pemeriksaan).
Fakta diataslah yang melatar belakangi kami untuk melakukan riset, sekaligus bertemu dengan beberapa tokoh Patani, ikhwal membangun kembali kesepahaman tentang bangsa Melayu di gugusan nusantara.
Kami menilai jika isu agama terus menjadi alasan bagi pemerintahan Thailand untuk melakukan operasi yang ketat terhadap rakyat Patani (ket: semenjak dijajah, di Patani muncul beberapa gerakan revolusioner berlandaskan Syariat Islam guna mengembalikan kejayaan Kesultanan Islam Melayu Patani Darussalam). Maka, kedamaian akan jauh tercipta di tanah Patani. Karena label pemberontak (isu ISIS salah satunya mulai dilancarkankan) terus diberikan oleh pemerintah Thailand terhadap para pejuang di Patani.
Upaya membangun sentimen kemelayuanlah yang akan mengetuk kepedulian negara-negara lain di Asia Tenggara ini, agar tidak menutup mata atas kejadian kejahatan kemanusiaan yang semenjak dahulu hingga kini tetap terjadi di Patani. Hingga pada akhirnya ada kepedulian internasional untuk melihat bahwa ada tirani kekuasaan di Patani Thailand Selatan.
By Chepry Hutabarat (Asli Indonesia)
Referensi sumber diulas dari links :-
.........................................................
http://nu-lampung.or.id/blog/membangun-kesepahaman-melayu-nusantara.html

Sabtu, 23 Januari 2016

UNTUK ANAK PARA SYUHADA

AMPERA PATANI - (Mr. JR Post) “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Amat berarti pepatah melayu ini yang mengajarkan kita agar saling tolong-menolong antara satu sama lain, agar kita kenal siapa kawan dan siapa lawan, agar kita kenal diri kita dan menerima takdir yang ditetapkan untuk kita jalani, dan agar kita percaya setiap perbuatan yang ikhlas ada balasan baik dari Allah SWT. Segala puji dan syukur saya panjatkan pada Allah yang maha Kuasa yang telah melahirkan para pejuang di Patani untuk menegak keadilan dan membela mereka yang dizalimi.
Seorang anak yatim pun berkata ‘Ayahku telah meninggalkan aku karena dihujani peluru hina, matanya terpejam dalam selimut darah, berbantalkan tanah, dan dia pergi tanpa sempat meninggalkan wasiat karena meninggalnya dalam kejutan dan tiada saudara mara disisi yang sempat mengajarkannnya menucapkan kalimat suci. Tapi aku tetap bangga karena dia pergi dalam pelukan bidadari dalam bibirnya mengucapkan kalimat Laa ilaaha Illallah. Aku yakin dia pergi ke syurga karena kepergiannya demi membela agama dan membela nasib kita semua.
Anak yang diriba oleh kakaknya yang sulong. Mereka 4 beradik kehilangan kedua ibubapaSurat ini dari anak para Syuhada yang saya sampaikan untuk anda. Tulisan ini saya tulis bukan bersumber dari kata-kata anak yatim itu dan mereka juga tidak menulis apa-apa surat untuk anda. Tapi tulisan ini saya dedikasikan untuk mereka karena suara mereka mungkin tidak pernah sampai kepada kita, mungkin tidak semua dari kita yang pernah melihat kesengsaraan anak Para Syuhada ini, mungkin juga ada antara kita yang telah lupa akan kewujudan mereka.
Dalam keadaan konflik di Patani seperti yang berlaku sekarang ini sudah pasti banyak masalah yang di hadapi oleh ramai pihak misalnya, para peniaga mungkin mengalami kerugian, tempat-tempat wisata/percutian mungkin mengalami kekurangan pengunjung, harga barang mungkin juga meningkat, dan yang utama ingin saya jelaskan adalah pasti ramai anak-anak yang kehilangan bapa mereka. Pernahkah anda terfikir akan nasib mereka setelah kehilangan pemimpin keluarga yang selama ini menyuapkan mereka rezeki, mengantarkan mereka ke sekolah, yang memberi mereka didikan, dan mereka hilang seseorang yang selalu menyelesaikan masalah mereka.
Salah seorang anak kecil yang menjadi mangsa kekejaman Thai.Beliau Lumpuh seluruh anggota badan. Hanya kepala yang boleh bergerak !!!!Tangan saya tergerak untuk mencoret tulisan ini karena hati saya tersentuh setelah mengetahui beberapa keluarga mengalami kesengsaran akibat kehilangan orang tua. Ada sebuah keluarga yang kehilangan kedua orang tua mereka dan hidup mereka mengalami penderitaan yang berat sehingga mereka terpaksa menyusui adik mereka yang masih bayi hanya dengan air teh, dan adik-beradik mereka tidak bersekolah karena tidak mampu menampung biaya sekolah dan si kakaknya pula sangat kurus sehingga badannya hanya terlihat tulang dan kulit sahaja. Setelah kita perhatikan kisah ini, apakah sama dengan pepatah melayu yang saya sebutkan di atas?!
Kisah keluarga di atas saya jadikan contoh dan masih banyak lagi keluarga yang mengalami nasib yang sama atau lebih berat lagi. Menurut yang dikabarkan, pada November 2010 ada sekitar 5011 atau lebih anak yatim di Patani yang kehilangan salah satu orang tua mereka atau kedua-duanya. Hal seperti ini bukan saja terjadi di Patani, malah ada juga di Afghanistan, Iraq, Palestina, Chechnya, Kashmir, Somalia, Moro, Ambon, dan poso.

Gadis malang yang ditembak sehingga cedera parah .Badannya sudah tidak berisi akibat tinggal dirumah kekurangan makanan.Kedua ibubapa di bunuh secara kejam oleh Penjajah.
Menurut perhatian saya, hal seperti ini bukanlah perkara yang boleh dianggap mudah dan kecil karena akibat dari ketidak-pedulian kita bakal mencetus suatu masalah yang amat besar suatu hari. Antara masalah yang saya lihat adalah meningkatya jumlah mereka yang mentang perjuangan kerna pihak kafir siam sedang berusaha untuk mengambil hati anak-anak yatim dengan memberikan bantuan makanan, pakaian, uang, dan juga membiaya sekolah mereka. Selain itu, pihak siam juga sering membawa mereka ke tempat-tempat semina atau kursus dan menurut ramai pihak mengatakan kursus itu bertujuan untuk mencuci otak para anak yatim agar membeci para perjuangan dan sekaligus menentang ajalan perjuangan. Hal ini bukanlah dari pemikiran saya tapi hal ini telah terjadi di mana-mana.
Haruslah kita sadar bahwa betapa pentingnya bagi kita membela anak yatim atau anak para syuhada. Di dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’un ayat 1-3 “Tahukah kamu orang yang mendustakan Agama, itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan kepada orang miskin “.Dan dalam sebuah hadith dari Ibnu Abbas r.a. bahwa Nabi saw bersabda : barang siapa yang memberi makan dan minum seorang anak yatim diantara kaum muslimin, maka Allah akan memasukkannya kedalam surga, kecuali dia melakukan satu dosa yang tidak diampuni.
Setelah anda membaca coretan tulisan ini, haruslah anda sadar akan kepentingan membela nasib mereka anak-anak yang ditinggalkan.

By Jeritan Rakyat Patani

Referensi sumber diulas dari links:-
.................................................
https://www.facebook.com/toh.habibi/posts/163285167377496

Jumat, 22 Januari 2016

MAHASISWA DAN WARGA MASYARAKAT LEBIH DARI 1000 ORANG BERGABUNG KELUAR MENENTANG OPOSISI PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BATU BARA DITAKUTI MEMPENGARUHI DAMPAK PADA GAYA HIDUP LINGKUNGAN DAN PERDAMAIAN

AMPERA PATANI – Pada 22 Januari 2015, Jaringan mahasiswa Prince of Songkhla University Kampus Pattani Untuk Keadilan dalam kerjasama dengan Persekutuan Rakyat Mempertahankan Hak Masyarakat dan Sumber Daya Alam Untuk Kedamaian (PERMATAMAS). Bersam-sama dengan keluar menentang oposisi pembangkit listrik tenaga batu bara Thepha (Tiba) provinsi Songkhla. Sebelumnya, diselenggarakan acara diskusi seminar pertukaran pendapat di bawah topik “Peran Mahasiswa dan Warga Masyarakat Dengan Misteri Jahat Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara” di Bangunan 58 Prince of Songkhla University (PSU), Kampus Pattani. Dan bersama-sama berpawai besar jalanan kaki dari kampus Pattani menuju ke Anusauari Raja Rama V di depan balai kota Pattani.
Khadun Palare, perwakilan Jaringan Mahasiswa Prince of Songkhla University Kampus Pattani Untuk Keadilan dan sebagai Presiden Komunitas Konservasi Alam PSU Pattani mengatakan selama dalam acara diskusi seminar bahwa “Dari berbagai macam untuk memanfaatkan teman hidup manusia lain sebagai salah satu kegiatan dari berbagai macam di atas, tidak membuat untuk hanya sebuah wacana dan apa yang harus menghafal berikutnya oleh mahasiswa PSU membuat untuk dirinya dan teman-teman mahasiswa lain sendiri, menyadari terhadap tugas sosial. Maka membuat keputusan bersama dikeluarkan pendapat pada kasus pembangkit listrik tenaga batu bara dengan tanpa partisipasi nyata dari orang-orang masyarakat dan proses survei yang tidak ada keadilan terhadap orang-orang masyarakat di daerah prasarana yang berdampak luas sampai ke Daerah Nongcik, Provinsi Pattani dari sebuah studi mengetahuinya. Oleh karena itu, menunjukkan dari kekuatan mahasiswa dalam penciptaan dan bersama sebagai suara rakyat untuk orang-orang masyarakat telah berpartisipasi nyata dalam berbagai proyek yang akan terjadi di daerah ini”.
Direk Hemnakhon, koordinator Jaringan Pengembangan daerah Thepha salah satu peserta dalam acara diskusi seminar kali ini mengatakan bahwa “Proyek pembangkit listrik tenaga batu bara diciptakan di kawasan sekitar sebuah masjid, pondok, dan candi, yang mempengaruhi dampak kehidupan orang-orang masyarakat. Ekosistem ekologi yang subur dan rantai makanan logam berat tercemar, jika ada penciptaan pembangkit listrik tenaga batu bara serta polusi dari pembakaran fotografi 23 kilogram perhari, dengan ada debu 2,5 mikron yang mempengaruhi tubuh”.
Bagi Suhaimee Ali Wakil Presiden Organisasi mahsiswa PSU Pattani juga mengatakan selama dalam acara diskusi seminar bahwa “Saya merasa senang melihat siswa bersama-sama untuk keluar menunjukkan menentang oposisi penciptaan pembangkit listrik tenaga batu bara. Jadi seperti biasa yang siswa Walailak sebelumnya pernah keluar untuk bersama-sama menentang oposisi penciptaan pembangkit listrik tenaga batu bara di Tha Sala, Nakhon Sri Thammarat. Dia menginginkan untuk semua siswa berpartisipasi keluar menampilkan kekuatan dalam mempertahankan ekstraksi sumber daya alam dan sebagai suara orang-orang masyarakat lebih lanjutnya”.
Tuwaedaniya Tuwaemaengae, perwakilan sektor masyarakat juga mengungkapkan selama dalam acara diskusi seminar bahwa “Jika terjadinya pembangkit listrik tenaga batu bara, mata pencaharian orang-orang masyarakat di daerah tersebut akan berubah dan mempengaruhi dampak kesehatan orang-orang masyarakat dalam daerah dan sekitarnya, meskipun itu dirancang untuk memberitahukan dari badan yang berkaitan memiliki teknologi maju yang mampu menangani dengan polusi alkohol tersebut. Tetapi juga tidak bisa menangani 100% secara langsung membuat mempengaruhi pada orang-orang di daerah proyek dan sekitarnya. Dan itulah suatu kondisi penting yang akan mempengaruhi juga pada proses kedamaian karena kurangnya partisipasi cara keadilan dari warga masyarakat di daerah proyek dan semua daerah sekitarnya”.
Ihsan, dari University Fathoni Provinsi Yala, mengungkapkan selama dalam acara diskusi seminar bahwa “Dirinya pernah ikut bersama menyelenggarakan kegiatan perkemahan di Thepha, menemukan bahwa di situ adalah daerah yang sangat subur, penduduk setempat membawanya pelayaran perahu dan menangkap ikan dengan tangan, ada banyak ikan karena rawa-rawa bakau berlimpah subur, yang pribadinya juga tidak setuju jika memungkinkan ada penciptaan (pembangkit listrik tenaga batu bara), pribadinya juga tidak ingin untuk lingkungan yang rusak dan dapat dibuat makan dibandingkan dapur orang-orang di daerah itu, karena orang-orang bankrit karet, keluar perahu nelayan, dan memiliki sayuran makan sendiri, jika diciptakan, dapur rumahnya mungkin akan hilang”.
Setelah dari selesainya acara diskusi seminar, Jaringan Mahasiswa PSU Pattani Untuk Keadilan telah membaca pernyataan dengan menuntut pada Perdana Menteri Jenderal Phrayut Chan-Ocha, untuk mempertimbangkan orang-orang di daerah provinsi perbatasan selatan telah terlibat dalam dipertimbangkan keputusan terhadap proyek pembangkit listrik tenaga batu bara Thepha dan proyek pembangunan besar lainnya yang akan terus terjadi nanti.
Pada pukul 15.00 waktu setempat, Jaringan Mahasiswa PSU Pattani Untuk Keadilan bergabung dengan Persekutuan Rakyat Mempertahankan Hak Masyarakat dan Sumber Daya Alam Untuk Kedamaian (PERMATAMAS). Dan orang-orang masyarakat di daerah proyek bersama-sama berjalan kaki berpawai besar di kawasan depan balai kota Pattani, bersama tampilan menunjukkan menentang dan berbagi selebaran informasi tentang dampak jika diciptakan pembangkit tenaga listrik batu bara.
Pada akhirnya, diadakan berkumpul membaca pernyataan sekitar kawasan depan Anusauari atas nama Jaringan Masyarakat provinsi perbatasan perlindungan hak-hak masyarakat dan lingkungan untuk kedamaian, pernyataan menunjukkan menentang oposisi proyek pembangkit listrik tenaga batu bara Thepha 4 hal:
1- Forum berpendapat 1,2, dan 3, yang diadakan tidak ada pengesahan karena tidak memberi kesempatan untuk orang-orang masyarakat di daerah terpengaruh yang bukan hanya 5 Km, termasuk Pattani, Narathiwat, dan Setul telah menawarkan pendapat.

2- Situasi kerusuhan konflik sampai mematikan warga dengan senjata lebih dari 10 tahun yang lalu, cukup sangat mengerikan, dan jika ada sebuah pembangkit listri tenaga batu bara, hal ini diyakini bahwa semakin menambahkan kekuatan api konflik selatan lebih dari pembangunan.

3- Jaringan akan mencoba banyak pendekatan sesuai dengan pedoman untuk tanpa kekerasan untuk menghentikan proyek pembangkit listrik tenaga batu bara Thepha.

4- Internal Security Operations Command, harus membawa masalah pembangkit tenaga listrik dan dermaga menjadi agenda untuk mengatasi minimnya pencegahan ketidakpuasan dari orang-orang masyarakat terhadap mekanisme kekuasaan negara yang terlibat.

Referensi sumber diulas dari links :-
.........................................................
http://seruansuararakyatpatani.blogspot.co.id/…/mahasiswa-d…
https://www.facebook.com/media/set/…

Selasa, 19 Januari 2016

MARA PATANI MENAWARKAN (OIC) BERGABUNG MEMILIKI PERANAN DALAM PROSES PERDAMAIAN THAILAND SELATAN PATANI

AMPERA PATANI - Sekretaris Organisation of Islamic Cooperation (OIC) bertemu dengan organisasi kelompok gabungan MARA Patani pada hari Ahad lalu. Adanya ringkasan kemajuan dari penggabungan kelompok yang didirikan organisasi MARA Patani dan untuk OIC mendukung proses perdamaian dengan cara bekerjasama dengan Thailand dan Malaysia. Bagian Sekretaris OIC menuntut hari ini untuk mengaturkan seminar lintas kelompok lebih menciptakan pemahaman di hadapan dunia dalam oposisi berat. Titiknya adalah tantangan kedua termasuk ASEAN dan OIC.


Sebelum berkunjungan ke Thailand hari ini selama tanggal 10-13 Januari 2016. Berita dari kelompok MARA Patani mengungkapkan bahwa pada tanggal (10/1/2016) lalu, perwakilan dari kelompoknya telah bertemu dengan Sekretaris OIC yaitu Dr.Iyad Ameen Madani beserta dewannya di Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan itu, termasuk peserta kelompok bertemu dan berunding pihak MARA Patani, adanya Awang Yaba sebagai presiden organisasi, Ustaz Muhammad Syukri Hari sebagai kepala pembicaraan termasuk dalam kelompok semuanya 9 orang dari keseluruhan. Pihak MARA Patani merangkum ringkasan gerakan dalam hal didirikan organisasi dengan menyatakan kepada OIC mendapat mengetahui, juga termasuk tentang berdialog damai atau perdamaian dengan pihak Thailand. Pada pertemuan ini, pihak MARA Patani meminta untuk OIC berperan mendukungnya pembicaraan dengan meminta kerjasama dengan Thailand dan Malaysia cara terdekat.

Sumber berita mengungkapkan bahwa usulan dari kelompok MARA Patani tidak termasuk untuk OIC sebagai mediator dalam pembicaraan atau untuk pembentukan platform tahap regional untuk mendukung hal ini dengan cara apapun. Karena sementara sekarang ini, Malaysia bertindak sebagai fasilitator yang dianggap sudah cukup, ”Kami hanya ingin OIC untuk bekerjasama lebih dekat dengan Thailand dan Malaysia”.

Pada pertemuan kali ini, juga adanya perwakilan dari Sektor Masyarakat Sipil datang dari tiga provinsi selatan yang ikut serta lima orang seperti yang diusulkan oleh OIC. Setelah itu, Sekretaris OIC dan dewannya melakukan perjalanan ke Bangkok untuk memulai kunjungan cara resmi ke Thailand selama tanggal 10-13 Januari. 

Pagi hari ini di Bangkok, Sekretaris OIC telah berpartisipasi dalam konferensi internasional tentang dialog keyakinan agama dan pemeliharaan perdamaian dalam masyarakat multikultural. Dengan menuntut untuk diadakan pembicaraan lintas kelompok diyakini lebih rentan untuk meningkat pemahaman tentang situasi yang dunia sedang menghadapi oposisi berat, bersama termasuk hal ini merupakan tantangan dari kelompok seperti OIC dan ASEAN.

Sekretaris OIC mengungkapkan bahwa gelobalisasi membuat dunia menyusut, tapi itu membuat melihat konflik antara di berbabagai negara lebih banyak. Di sementara yang konflik berlangsung, perlu yang harus diadakan dialog antara orang yang berbeda agama. Seminar halaman ini adalah kesempatan besar untuk berkontribusi pemahaman dan saling toleransi antara masing-masing termasuk hidup bersama dengan damai. Dia menunjukkan bahwa semua agama memiliki nilai yang sama, tidak ada agama yang tidak berbicara tentang kasih sayang, keadilan atau kesetaraan. Tapi interpretasi yang berbeda dapat menimbulkan konflik, maka perlu melakukan segala kemungkinan agar masyarakat memahami keragaman agama dan budaya yang berbeda. Maka harus berdialog dan memperluas ke kelompok yang lebih luas dari peserta dalam ruangan dan menjangkau ke kelompok orang sebanyak mungkin. Yang hal seperti ini merupakan tantangan bagi OIC dan ASEAN.

Sebelumnya, seringkali ada usulan untuk OIC berperan dalam proses perdamaian di Thailand selatan dalam berbicara untuk perdamaian di bawah pemerintah PM. Yingluck. Kelompok Barisan Revolusi Nasional Melayu Patani (BRN) juga telah mengusulkan OIC sebagai pengamat untuk pembicaraan lalu. Mantan Sekretaris Jenderal OIC Ekmelleddin Isan Oklu pernah menyarankan dalam masalah pembicaraan damai di antara selama pertemuan dengan mantan Perdana Menteri Yingluck Chinnawatra dan dewannya di Istanbul pada bulan Mei tahun 2013 untuk Thailand dan BRN menekankan dalam masalah proses membangun kepercayaan dan saling percaya bersama termasuk cara untuk menyelesaikan konflik pada sumbernya. OIC telah menyatakan dukungan untuk perdamaian di Patani dengan menawarkan untuk mengambil bagian yang terlibat dalam proses membangun kepercayaan antara kedua belah pihak tersebut.

Bagi mereka yang melihat perbedaannya, laporan berita mengungkapkan bahwa OIC telah mengusulkan kepada kelompok-kelompok perjuangan gerakan perelawanan dengan pemerintah Thailand untuk berkumpul di bawah nama Bersatu Patani Dewan Rakyat atau Unified Patani People Council (UPPC) yang tidak muncul bahwa banyak keberhasilan, jadi setelah mengetahui bahwa pemerintah Thailand sedang berbicara dengan kelompok yang berbeda atas nama MARA Patani, dari OIC juga ingin bertemu dengan perwakilan dari setiap delegasi.

Referensi sumber diulas dari links:-
.........................................................
http://seruansuararakyatpatani.blogspot.co.id/2016/01/mara-patani-menawarkan-oic-bergabung_11.html
http://dmctoday.blogspot.co.id/2016/01/blog-post_392.html

SERUAN SUARA RAKYAT UNTUK PERDAMAIAN PATANI

AMPERA PATANI - Sejak munculnya kerusuhan konflik bersenjata di Patani pada tahun 2004, yang terus berlangsung lama hingga sekarang ini. Untuk keselamatan penduduk di Patani tidak siapa atau kelompok-kelompok mana bahkan pemerintah negara Thailand sendiri tidak pun bisa menjaminkan keamanan dan perlindungan bagi mereka. Semakin hari semakin menambah tidak menenangkan penduduk setempat dan telah membuat orang-orang di dalam masyarakat timbul rasa takut-takutan kerendahan yang menghina dan serbuan peluru semacam hujanan seakan-akan tidak mengenal arah dan penduduk sendiri yang menanggung penderitaan. Dengan karena pembunuhan terjadinya di Patani yang tidak kenal prikemanusiaan. Perlindungan hak anak kecil dan wanita (protection of the rigts of children and woman) juga tidak memberikan perhatiannya oleh pemerintah, angka anak yatim dan janda kehilangan suami semakin meningkat, jelas yang seharusnya pemerintah untuk memenuhi layanan sebagai mana yang disebutkan kewarganegaraan.
Jika telah mengetahui mengenalkan sejarah yang telah membahasnya cukup panjang tentang sebuah negeri Patani di masa silam. Tetapi semenjak negeri Patani jatuh ditakluk oleh kerajaan Siam Thailand (1785 M), orang-orang generasi baru diasingkan mengenalnya sejarah tentang bumiputra sendiri, yang mana para pendahulu telah Berjaya. Justru itulah, karena pihak kerajaan (pemerintah Thailand) menutupi sejarah agar generasi-generasi baru tidak dan diberikan mengenalnya sejarah, yang bisa hanya mengenal Pattani adalah satu-satunya wilayah di Thailand Selatan. Nah, jika berbicara bahwa Patani adalah merupakan sebagian dari tanah Melayu (Nusantara) yang salah satunya dahulu sebuah kerajaan Melayu Islam di Asia semenanjung pemerintah kesultanan Patani Darussalam (1500-1785 M), singkatan dari sejarah masa dahulu ketika dibawah kekuasaan pemerintah kesultanan Raja Patani, kehidupan rakyat jelata dijaminkan kekuasaannya yang berkeadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan secara menyeluruh.
Namun itu, sekarang Patani lebih dikenalkan dunia adalah sebuah wilayah Pat(t)ani yang mana telah disematkan bahasa oleh imperialis Siam Thailand. Justru itulah merupakan sistem penjajahan untuk menghancurkan teritorial wilayah jajahannya agar menjadi satu-satunya nasionalisme Thai. Maka berlakulah pentadbiran wilayah baru dari sebuah negeri Patani awalnya dengan memecah belah menjadi wilayah jajahannya dan mentransmigrasi penduduk (Land reform) terjadinya hingga kini penduduk di Patani bercampur aduk orang-orang (Melayu Islam) dan orang-orang (Siam Budha), adanya mereka telah lupa tidak menyadari (identitas bangsa mereka sendiri) karena telah menelan pengaruh penjajah, apalagi paksaan pada masa pemerintah (PM. Phibun Songkhram 1939 M) yang sekarang mereka tidak bisa membedakan orang Islam dengan non-Islam (Budha Thai), tetapi ada sebagian yang masih bisa untuk membedakan mereka diantaranya karena kebudayaan adat istiadat penduduk masih mempertahankan ciri-ciri kehidupan masyarakat setempat. Untuk sekarang ini, dari sebuah negeri Melayu Patani kini hanya tinggal kenalan adalah beberapa wilayah (Thailand Selatan) saja yakni Pattani (Patani lama), Narathiwat (Menara), Yala (Jala), Satun (Setul) dan lima daerah (Sadau, Nathawi, Cenak, Sebayoi, dan Thepha) dari sebagian wilayah Songkhla (Senggora).
Berhubungan dengan dibawah kekuasan kolonial Siam Thailand, sekarang ini warga masyarakat di Patani telah ditukarkan suasana yang sangat menderita dan kecemasan penduduk karena isu konflik malah tambah lebih keras mengakibatkan terjadinya penderitaan mencapai beribu orang tewas dan pula banyak yang terpenjara (golongan para intelektual) hingga merespons terhadap pendidikan, sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat telah merusak, lebih-lebih lagi kontribusi terhadap sikap pendidikan baik di sekolah swasta maupun perguruan tinggi pada tingkat universitas semakin menurun juga kurang berkembang berdampak bagi generasi penerus harapan cita-cita agama, bangsa, dan negara, penyebabnya kehilangan para intelektual untuk membimbing cita-cita masyarakat. Dan baru-baru ini, pemerintah menerapkan hukum darurat sepertinya penangkapan penduduk orang-orang di Patani yang tidak jelas masalah dan kesalahannya dan lain-lain lagi. Realitas tersebut membuat masyarakat takut untuk bersuara, yang seharusnya itu adalah hak-hak yang dimilikinya!
Sebagai aspirasi masyarakat Patani saat ini, mereka sudah tidak bisa lagi bertahan dalam suasana kerusuhan konflik yang sedang mengalaminya. Maka timbullah rasa kesadaran dari bagian kalangan rakyat jelata sendiri (semangat nasionalisme) agar bersama-sama bangkit untuk menentukan nasibnya sendiri yang tidak menggantungkan lagi harapan dan cita-cita pada pemerintah dalam masalah proses penyelesaian konflik tersebut. Jika kita bersama-sama dapat meneliti dari situasi dan masa telah sudah berkelamaan dari awal perencanaan pemerintah bahkan telah cukup besar pengeluaran dana untuk proses penyelesaian konflik di Patani. Nah, maka dengan seruan suara oleh penduduk masyarakat anak pribumi sendiri mereka menunjukkan hasrat cita-cita dan harapan dengan mengangkatkan label menulis kata-kata “PATANI MERDEKA” atau “KEMBALI HAK PERTUANAN BANGSA" mengikat seluruh di jalan raya, jembatan, dan di ranting pohonan sekalipun, tertampak nyata di seluruh kawasan daerah wilayah Thailand Selatan, Patani. Dan itulah, dianggap hasrat dari keinginan oleh rakyat sendiri sebagai pengiriman arus komunikasi kepada masyarakat dunia internasional yang cinta kedamaian dalam berupaya mendapatkan hak kekuasaan dan hak kemerdekaan bangsa Patani yang datang bersama-sama sesuai dengan proses perdamaian dunia saat ini. Jika ulasan lagi banyak berita telah mengakses di media massa dan seruan masyarakat maupun peranan dari kalangan mahasiswa pemuda untuk mendorong berkomunikasi kepada dunia internasional (PBB) yang harus mempertimbangkan rasa dan kehasratan dari rakyat untuk mewujudkan perdamaian di Patani dan disertai dengan perdamaian dunia.
Maka untuk solusinya, oleh Tuwaedaniya Tuwaemaengae dari (LEMPAR) Lembaga Patani Raya Untuk Kedamaian dan Pembangunan (Wawancara, 21/12/2015) berpendapat bahwa “Proses perdamaian Patani adalah dari sektor pemerintah, orang-orang Melayu masyarakat Patani, orang-orang Siam masyarakat Thailand harusnya menerima kenyataan dari akar penyebab terjadinya konflik dengan membuat pernyataan bertampak untuk umum yang harus menghormati dan mematuhi prinsip-prinsip hak asasi manusia, hak keadilan, dan demokrasi. Kami percaya bahwa jika semua tersebut yang telah diungkapkan dan dari pihak pemerintah maupun dari pergerakan pembebasan Patani itu sendiri, dan dari penduduk orang-orang Patani maupun orang-orang Thailand juga berlaku dan menjalankan. Maka proses penyelesaian konflik atau perwujudan perdamaian Patani mungkin akan tercapai cita-citanya. Dan hal ini pula tidak lagi dibicarakan oleh media massa mungkin fakta tidak efek sesuai kenyataan”.

By Muhammad Usman

Referensi sumber diulas dari links:-
.................................................
https://www.facebook.com/toh.habibi/posts/151839275188752

PROSES DIALOG DAMAI SETENGAH HATI

AMPERA PATANI - Dalam Proses Dialog Damai antara pemerintah kolonial Siam Thailand dan berisan Perjuangan Pembebasan Melayu Patani yang dilanda konflik politik, sejarah, budaya dan sosial di Patani bukan hal yang baru terjadi sejak 10 tahun terakhir. Tapi merupakan mata rantai dari suatu proses konflik entik bangsa yang panjang, sudah lebih dari 200 tahun.
Konsensus umum Proses Dialog Damai KL 28 Feb 2013 baru ini ditandatangan Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Thailand yang mewakili pemerintah pimpinan Perdana Menteri Yingluck Shinawatra seketika itu dan Barisan Penjuang Pembebasan Patani diwakili BRN (Barisan Revolusi Nasional Melayu Patani). Ini merupakan titik balik penting dalam sejarah solusi kemelut politik bangsa Melayu Patani dengan penjajah Siam Thai di bagian Ujung Selatan.
Proses dialog damai di Selatan digalang Barisan Revolusi Nasional (BRN), cabang Kubu Revolusi Bangsa Melayu Patani, yang didirikan pada 1960 untuk menuntut kebebasan bangsa Melayu Patani dari pemerintah colonial Siam Thailand.
Thailand memulai pembicaraan perdamaian dengan barisan pejuang Melayu, yang bergerak di Selatan, menandakan kemungkinan terobosan dalam kemelut yang telah menewaskan lebih dari 6000 jiwa manusia itu.
Barisan pejuang membela hak-hak bangsa Melayu Patani sebelum ini tidak pernah secara jelas menyatakan tuntutan mereka sejak pertandingan berkobar obor revolusi pada 2004, tapi mereka diperkirakan menginginkan swatantra lebih atau negara terpisah di wilayah bekas Kesultanan Melayu sehingga dirampas Thailand pada 1909.
Referensi sumber diulas dari links:-
...........................................................
https://www.facebook.com/photo.php?fbid=151844921854854&set=a.151839271855419.1073741828.100010880403517&type=3&theater