This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Minggu, 10 Februari 2019

Istana Raja Jammu, Yaring, Patani (Thailand Sealatn)

Tepatnya di provinsi Patani yang merupakan salah satu dari empat provinsi yang berada di wilayah Thailand Selatan, berdirilah sebuah Istana Raja Jammu yang terletak di kawasan Tempat 2 Daerah Yakring Wilayah Patani.

Istana megah ini terbuat dari kayu, yang arsitekturnya sama dengan disemua rumah bangsawan zaman dulu.

Diperkirakan istana ini dibangun sekitar tahun 2438 Thai dan tahun 1894 English, (pada masa Raja Rama 5 berkuasa), yang dimaksud dengan raja Rama V, bernama Phrabat Somdet Phra Paraminthra Maha Chulalongkorn Phra Chulachomklao Chao Yu Hua Yang Agung (Phra Piya Maharaj), sehingga istana itu disebut adalah “Phraya Phiphit Senamatyathibadi Srisura Songkram”.

Istana Raja Jamu ini, dibangun  ganda, setengah bangunan terbuat dari kayu dan semen, ada tangga melengkung untuk naik ke lantai atas balkon istana di kedua sisi istana itu. Disana ada aula besar, tempat untuk berkumpul. Luar biasa kemegahan istana Raja Jammu, keunikan istana tua Yaring ini karena gabungan arsitektur Muslim, Cina dan Eropa.

Editor : Media Informasi News (MIN).







Istana Raja Teluban Patani (Thailand Selatan)

Tepatnya di provinsi Patani yang merupakan salah satu dari empat provinsi yang berada di wilayah Thailand Selatan, berdirilah sebuah Istana Raja Teluban Patani yang terletak di tengah-tengah kota Teluban Wilayah Patani.

Kerajaan Teluban  sudah lama ditaklukkan oleh kerajaan Siam (Thailand), kerajaan ini berakhir pada tahun 1789 – 1791, berawal ketika terjadi pemberontakan di Patani, lalu kerajaan Patani dipecah menjadi tujuh wilayah, yaitu : Pattani, Saiburi (Teluban), Nongchik, Yaring, Yalha, Reman dan Rangae, pemecahan ini bertujuan untuk melemahkan orang melayu.

Kota Teluban pernah jadi marwah bangsa Melayu sebelum tercabik-cabik oleh penaklukan kerajaan Siam (Thailand), istana ini adalah istana Tengku Abdul Hamid, yang digadaikan pemiliknya kepada orang Cina, kemudian berpindah tangan beberapa kali sebelum dibeli oleh Persatuan Muslimah Masjid Teluban, pada 8 Januari 2014 dengan harga 10.5 juta Baht atau sekitar RM1.050 juta.

Siapakah Tengku Abdul Hamid ?

Tengku Abdul Hamid adalah putra bungsu dari dua bersaudara dari pasangan Tengku Muda Adulabutr + Tengku Ummu Kalthum. Tengku Muda adalah putra sulung Raja Jambu, dan Ummu Kalthum pula cucunda Raja Selindung Bayu (Teluban). Setelah reformasi pemerintahan Bangkok (tak lama setelah Patani dijajah Siam), Tengku Muda ditunjuk menjadi gubernur wilayan Satun (Setul) kemudian terpilih sebagai anggota parlemen selama 4 priode dan terakhir sebagai senator. Setelah Tungku Muda meninggal, Istana tersebut jatuh ke tangan Tengku Abdul Hamid. Rumah pusaka yang letaknya di lokasi yang sangat strategis ini, oleh Tengku Hamid digadaikan kepada bangsa Cina. Kemudian ditebus Persatuan Muslimah Masjid Teluban.

Tengku Abdul Hamid dengan pasangannya Tengku Azizah dianugerahkan tujuh orang putra dan putri, di antaranya adalah Tengku Anis. Kelak ia menjadi raja perempuan Kelantan. Setelah Abdul Hamid bercerai dari Tengku Azizah, lalu ia kawin lagi dengan wanita asal Chiang Mai. Akhirnya Tengku Azizah boyongan pulang ke negeri asal, Kelantan, bersama putra dan putrinya.

Bila mengenang pada masa dulu di kota ini,  yang sekarang bernama Saiburi,  pernah ada kerajaan Islam dengan raja yang bertempat kediaman di istana ini, sekarang sudah dimiliki orang melayu Patani dalam organisasi  Persatuan Muslimah Masjid Teluban.

Tidak jauh dari istana raja i Teluban, ada mesjid yang arsitektur bagus, modern pada masa jaya kerajaan Teluban, dan masjid itu bukan dibuat dari kayu. 

Kesimpulan, bahwa masjid ini sudah berusia lebih dari satu abad, akan hidup dan dihidupkan bila ada umat yang memakmurkannya. Seperti mesjid tua yang berada di kampung Telok Manok, maka istana Teluban ini perlu ditingkatkan lagi fasilitasnya.

Editor : Media Informasi News (MIN).





Sabtu, 09 Februari 2019

Masjid Raja Patani, Atau Masjid Cabang Tiga

Tepatnya di provensi Patani yang merupakan salah satu dari empat provinsi yang berada di wilayah Thailand Selatan, berdirilah sebuah Masjid Raja Patani yang berada di kawasan Cabang Tiga Wilayah Patani.
Masjid ini merupakan sebuah warisan yang mengigatkan kepada masyarakat Patani di zaman pemerintahan raja-raja Melayu Patani yang pernah mencapai masa keamasan, dan sebagai lambang perjuangan raja-raja Melayu Patani pada masa yang lalu.
Asalnya masjid ini dibina dengan mengunakan kayu pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad (1845 – 1856), yaitu salah seorang kerabat diraja Kelantan yang diangkat menjadi raja Patani.
Setelah itu, masjid ini direnovasi atau diubah bangunan mengunakan batu pada zaman pemerintahan Tengku Putih (1856 – 1880), yaitu anak kepada Sultan Muhammad.
Keterangan :
1. Dalam sebuah buku sejarah kerajaan Melayu mengatakan, bahwa masjid ini di bina pada zaman/masa Sultan Sulaiman Syarifuddin yang memerintah Patani (1889 - 1899).
2. Namun penduduk tempatan mengatakan, bahwa masjid ini di bina pada masa Sulthan Tengku Puteh Ibnu Al-marhum Sulthon Muhammad yang memerintah Patani (1855 -1881).
Editor : Media Informasi News (MIN).






Mahasiswa Asal Indonesia, Mengajar dalam Tiga Bahasa di Thailand Selatan

Oleh Rauzatul Jannah, Mahasiswi Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, peserta KKM-PPL di luar negeri, melaporkan dari Thailand.

Alhamdulillah, sudah lebih tiga bulan kami, peserta Kuliah Kerja Mahasiswa-Program Praktik Lapangan (KKM-PPL) berada di Thailand Selatan, untuk melaksanakan suatu pengabdian di negara yang berbentuk kerajaan ini.

Saya Rauzatul Jannah, mahasiswi semester 4 Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Almuslim Peusangan, Bireuen, salah seorang peserta  program KKM-PPL di Thailand Selatan. Ini merupakan program KKM Internasional, hasil kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Badan Alumni Internasional Thailand Selatan.

Peserta program KKM-PPL pada angkatan ini tercatat 71 mahasiswa dari 12 perguruan tinggi se-Indonesia yang mendapatkan kesempatan mengikuti program ini. Bagi Universitas Almuslim tahun ini merupakan tahun ketiga mendapat kesempatan mengirimkan mahasiswannya untuk pengabdian di Negeri Pagoda ini.

Kami dari Universitas Almuslim ditempatkan di lima provinsi yang berbeda, yaitu Provinsi Narathiwat, Yala, Pattani, Songkhla, dan Patthalung. Saya sendiri di Provinsi Pattani. Masyarakat Melayu setempat menyebut provinsi ini dengan Provinsi Pattani Darussalam atau Pattani Raya.

Saya ditempatkan di Bamrong Islam School Pattani atau dalam bahasa Melayu mereka sebut Madrasati Jannati, Pattani. Selama melaksanakan pengabdian ini, begitu banyak pengalaman dan perbedaan yang saya dapatkan, mulai dari sistem pelaksanaan KKM-PPL yang tentunya sangat berbeda dengan yang dilaksanakan di Aceh, terutama dalam hal bahasa, budaya, kebiasaan, dan berbagai ragam tradisi kemasyarakatan lainnya.

Berbicara tentang budaya di Pattani (Thailand Selatan) sangatlah kental dengan Islam. Hal ini dapat dilihat dari kebiasaan dan cara mereka berpakaian dan bersikap yang sangat islami. Di setiap sudut kehidupan mereka selalu ditanamkan nilai-nilai islam, mulai dari budaya mengucapkan salam dan bersalaman saat berpapasan masih sangat terjaga dalam kehidupan mereka.

Ke mana pun saya pergi jumpa seseorang, meskipun dia tak mengenal saya, tetapi mereka tetap memberi salam dan berjabat tangan. Tetapi di sini kaum laki-laki dan perempuan tak boleh berjabat tangan. Cukup dengan senyum dan tunduk saja untuk memberi hormat kepada mereka.

Pakaiannya sangat islami, apalagi saat ke luar masjid setelah melaksanakan shalat fardu. Kaum prianya hampir semua menggunakan jubah dan juga memakai serban di kepala. Itulah pemandangan yang sehari-hari saya lihat.

Hasil pengamatan saya saat mengajar anak-anak sekolah, saya mendapatkan pengalaman tentang perbedaan pengucapan antara bahasa Melayu Pattani dengan bahasa melayu Indonesia ataupun Malaysia. Saat pertama hadir di sekolah, hal yang pertama sekali saya pelajari adalah bahasa. Ternyata pengucapan dan kata-kata bahasa Melayu mereka memiliki terdapat banyak perbedaan dengan bahasa Melayu Indonesia ataupun Malaysia.

Tentang bahasa di sekolah mereka menggunakan bahasa Melayu Pattani dan bahasa Siam. Jadi, sangat jarang di antara mereka menguasai bahasa Melayu yang serumpun seperti bahasa Indonesia ataupun Melayu Malaysia.

Dengan keadaan seperti itu, saat pertama kali masuk sekolah, saya sempat bingung bagaimana cara berkomunikasi dan mengajarkan pelajaran sekolah kepada anak-anak di sini, karena saya ditempatkan seorang diri di sekolah tersebut tanpa ada kawan atau kelompok dari universitas lain dari Indonesia. Kebetulan saya dari Prodi Pendidikan Bahasa Inggris, lalu saya coba untuk berkomunikasi dengan bahasa inggris. Eh, ternyata hasilnya juga nihil, karena mereka tidak bisa berbahasa inggris.

Saya tambah bingung, saya sempat sedih karena di sini saya seorang diri dan tak tahu hendak berbicara dan mengadu kepada siapa. Saya juga tak paham bahasa mereka (Siam). Jadi, klop deh bingungnya.

Untungnya kepala sekolah tempat saya PPL-KKM sangat baik. Saya baru berjumpa dengannya sore hari. Ia bisa berbahasa Melayu dan paham bahasa Indonesia. Nah, kebetulan bahasa Indonesia orang Aceh hampir sama dengan bahasa Melayu yang mereka kuasai. Itulah yang membuat hati saya lega dan tak terbebani.

Di sekolah tempat saya mengajar, muridnya jarang berkomunikasi dengan bahasa Melayu, begitu juga dengan bahasa Inggris, walaupun sudah duduk di bangku SMA.

Kebetulan saya mengajar di tingkat mathayom 2 sampai mathayom 4. Di Indonesia, mathayom 1-3 setara dengan SMP dan mathayom 4-6 setara dengan SMA. Karena persoalan bahasa, akhirnya saya coba mengajar dengan tiga bahasa, yaitu bahasa Melayu, bahasa Inggris, dan juga bahasa Siam yang sedang saya pelajari.

Untuk lancarnya proses praktik PPL-KKM dalam mengajar murid yang kurang paham bahasa yang saya kuasai maka terpaksa saya putar otak memikirkan starategi apa yang harus saya lakukan.

Saya coba memilih seorang siswa yang bisa memahami bahasa Melayu atau bisa mengerti bahasa Inggris. Lalu, saya jadikan mereka sebagai penerjemah materi yang saya sampaikan dengan bahasa Indonesia ataupun dengan bahasa Inggris, untuk diterjemahkan ke bahasa Thai. Alhamdulillah, metode yang saya praktikkan ini ternyata berjalan lancar dan siswa pun sangat senang belajar dan mengerti apa yang saya sampaikan. Akhirnya saya makin percaya diri saat berada di depan kelas dan setiap pekerjaan rumah (PR) yang saya berikan mereka kerjakan dengan baik.

Pengalaman mengajar dengan teknik dan startegi seperti ini mungkin tak pernah saya dapatkan di Indonesia. Di sinilah saya harus membuktikan kepada mereka, meskipun berbeda suku bangsa dan bahasa, tapi seorang guru tetap harus membuat muridnya paham dan mengerti apa yang diajarkan dengan cara apa pun, meskipun tenaga terkuras tiga kali lipat dan waktu banyak yang terbuang untuk proses penerjemahan.

Ingat, seorang guru dikatakan berhasil bukan karena sering memakai baju batik Korpri dan bergaji besar, akan tetapi keberhasilannya dilihat dari seberapa banyak siswa yang bisa berubah menjadi lebih pintar dan lebih baik setelah menerima pelajar dari sang guru. Salam “PahlawanTanpaTanda Jasa” dari Pattani. I love Indonesia and I love Aceh.

Editor : Media Informasi News (MIN).
_______________
Lihat Lanjut Disini :-

Masjid Telok Manok Adalah Masjid Tua di Thailand Selatan

Di Negara Thailand, tepatnya di provinsi Narathiiwat yang merupakan salah satu dari empat provinsi yang berada di wilayah selatan Thailand, berdirilah sebuah masjid dengan bahan baku kayu yang sudah berumur lebih dari 300 tahun. Masjid itu disebut dengan masjid “Telok Manok” atau juga dikenal dengan nama masjid “Taloh Manoh”, masjid “Wadi Hussein”, masjid “Talo Mano”, atau masjid “Al-Hussein”.

Menurut sejarah yang beredar dimasyarakat, masjid Telok Manok sudah berdiri sejak tahun 1768, dan menjadikannya sebagai masjid tertua di Thailand sampai saat ini. Nama “Telok Manok” sendiri diadopsi dari nama desa tempat dibangunnya masjid ini, sebuah desa kecil yang terletak kurang lebih 25 Km dari ibukota provinsi Narathiwat.
Sedangkan nama “Al-Hussein” diadopsi dari ulama yang telah menyebarkan agama islam pada saat itu didaerah desa Telok Manok. Beliau juga disebut-sebut sebagai pendiri masjid dengan bahan baku kayu tersebut.
Masyarakat sekitar mempercayai bahwa masjid ini telah dibangun pada tahun 1768 di penghujung masa kekuasaan kesultanan “Patani”. Untuk siapa pendirinya memang masih perlu dikaji lebih lanjut, karena sampai saat ini para peneliti juga belum bisa menentukan siapa pendiri masjid tersebut. Namun, masyarakat sekitar mempercayai bahwa ulama yang bernama Wan Hussein Az-Sanawi atau Al-Hussein adalah pendiri atau perenovasi masjid tersebut pada tahun 1960-an. Apalagi, para sejarawan disana telah sepakat bahwa Al-Hussein memang menjadi pendiri masjid tersebut, dilihat dari sejarah bahwa beliau telah memiliki kontribusi besar dalam penyebaran agama islam disana.
Didekat masjid Telok Manok terdapat sebuah sungai dengan air yang sangat jernih dan konon digunakan sebagai tempat berwudhu oleh jamaah Al-Hussein pada zaman dahulu. Hingga kini, masjid Telok Manok masih difungsikan dengan baik sebagai tempat ibadah meskipun usianya sudah sangat tua. Bahkan, renovasi total pun tidak dilakukan oleh warga sekitar, demi mempertahankan nilai sejarah yang dimili masjid ini.
Sedangkan untuk arsitekturnya, masjid inii memiliki perpaduan antara gaya arsitektur Thai, China, dan Melayu. Terdapat ukiran-ukiran mirip bunga pada setiap pintu-pintu kayu, jendela, ventilasi, atap, serta mimbarnya.
Akses jalan untuk menuju masjid ini sangat sempit dengan jalan menanjak. Sedangkan bangunan utama masjid terdiri dari 2 bangunan yang dijadikan satu yang keseluruhannya dibangun seperti rumah panggung / rumah tradisional adat melayu. Biasanya desain rumah panggung tersebut memiliki tujuan untuk menghindari binatang buas serta menghindari kebanjiran akibat iklim yang lembab disana.
Cara pembangunan masjid ini juga tergolong unik, karena mirip dengan teknik pembangunan rumah kayu di tanah jawa dengan sistem tanpa paku besi, hanya menggunakan sistem interloking antara satu kayu dengan yang lainnya. Berbagai hiasan ukiran juga ikut menghiasi bangunan kayu tersebut, mulai dari ukiran tumbuh-tumbuhan, daun, sulur sulum, ukiran bunga serta ukiran-ukiran dengan budaya China.
Bahkan ukiran tersebut juga terdapat pada kayu tiang penopang atap, serta kayu interlocking pada bagian bawah atap.
Renovasi yang terjadi pada masjid Telok Manok ini hanya pada Atapnya, yang semula memakai daun palm, menjadi genteng buatan lokal dalam gaya patani. Bentuk yang paling unik bisa dilihat dari atap masjid, karena memiliki 2 atap yang saling bertumpang tindih, atap kecil diatas atap utama merupakan cerminan dari atap utama. Selain itu, didepan sisi atas atap masjid dibangun sebuah menara kecil sebagai media untuk mengumandangkan adzan.
Meskipun hanya berbahan baku kayu, namun bangunan tersebut dapat bertahan hingga ratusan tahun, dan masih memiliki nilai sejarah dan estetika sendiri. Oleh sebab itu, masyarakat tidak merenovasi total masjid Telok Manok pada bagian selain atapnya.
Editor : Media Informasi News (MIN).




Peristiwa Duka Masjid Kerisik, Atau Masjid Sultan Muzaffar Shah

Masjid Kerisik atau Masjid Sultan Muzaffar Shah, masjid Kerisik dalam bahasa Thailand dikenali Krue Se Mosque atau Pitu Krue-ban Mosque, terletak di Wilayah Patani.
Kerisik adalah perkataan Melayu yang bererti pasir di kawasan pantai yang berwarna putih bagaikan mutiara. Pada zaman dahulu, apabila orang-orang Arab berlayar sampai ke pantai ini, mereka menamakan kawasan ini “lu lu” atau “mutiara” dalam bahasa Melayu. Perkataan ini kemudiannya menjadi nama kepada sebuah kampung, pada masa ini dikenali dengan panggilan “Tanjung Luluk” yang terletak di Wilayah Patani.
Nama resmi Masjid Kerisik adalah “Masjid Sultan Muzaffar Shah”. masjid ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara dibina dengan menggunakan bata merah buatan kampung Tarab Bata, sekarang di kawasan Gamia Daerah Muang Wilayah Patani.
Binaanya mengikut senibina Timur Tengah. Cara penyusunan batanya dilakukan dengan menggunakan campuran kulit kerang dengan beras pulut hitam yang ditumbuk lumat kemudiannya dicampurkan bahan tersebut dengan adonan telur putih dengan manisan cair. Cara ini merupakan salah satu kebijaksanaan Melayu temptan pada masa itu.
Masjid ini dibangunkan pada zaman Sultan Muzaffar Shah pada tahun 2057 B.E / 1514 A.D (Anan Watananikorn 2531 : 64) mengikut saranan Syeikh Shafiyuddin Al-Abbas (ulama Fiqih yang digelar Dato’ Faqih Diraja). Setelah selesai pembinaannya, Masjid Kerisik ini dianggap sebagai Masjid Rasmi Kerajaan Melayu Patani Darussalam. Selain daripada berperanan sebagai tempat ibadah, di sini juga dijadikan pusat hal ehwal agama Islam dan juga sumber pengajian berbagai-bagai bidang ilmu berkaitan Islam.
Kesan keruntuhan yang jelas kelihatan pada bagian kubahnya itu akibat daripada peperangan yang berlaku di antara Patani dan Siam/Thailand pada Julai – November 1786 (Zamabai A Melik : 1993 : 96). Meskipun masa telah berlalu selama 5 abad, Masjid Kerisik masih tegak bertahan sebagai tempat yang sangat bernilai dari sudut sejarah, kesenian dan seni bina sejak dahulu sampailah sekarang.
Pada 28 April 2019, sudah 15 tahun tragedi Majid Kerisik (Kruse Mosque) berlalu dan yang pasti kenangan pahit ini tidak akan hilang di hati rakyat Patani. Mereka kehilangan saudara-mara dengan sekelip mata sahaja dan ada juga yang cacat kekal, sehingga sekarang menurut masyarakat setempat, pembunuhnya tidak dapat dikesan oleh pihak berkuasa sehingga sekarang.
Masjid Kerisik merupakan sebuah masjid di Wilayah Patani yang menjadi tumpuan masyarakat setempat untuk beribadat. Peristiwa berdarah yang berlaku pada (28 April 2004) sewaktu masyarakat selesai menunaikan solat fardhu, dengan tiba-tiba di kepung oleh tentera Siam/Thailand, jemaah masjid tidak dibenarkan keluar dalam tempoh masa yang lama sehingga tembakan bermula yang bukan hanya dari tentera malah juga bom dari helikopter Apache yang dijatuhkan kedalam kubah masjid.
Dapat dibayangkan situasi pada masa itu, rakyat yang tidak berdosa dibunuh sebegitu rupa yang cukup menggambarkan kekejaman pihak tentera dan kerajaan Thailand pada masa itu sehingga mengorbankan sejumlah 108 nyawa anak muda dan orang tua yang tidak berdosa. Bukan hanya membunuh, malah penduduk diugut oleh ketua tentera dengan menggunakan speaker masjid  agar memberitahu bahawa yang melakukan ini adalah kelompok pemisah jika ditanya dari luar.

Editor : Media Informasi News (MIN).






Jumat, 08 Februari 2019

Pakaian Melayu Patani (Thailand Selatan)

Budaya Melayu Patani pasca 1902 adalah budaya yang terbuka tanpa dipimpin. Keterbukaan itulah yang menyebabkan kebudayaan Melayu Patani menjadikan anak bangsanya sendiri tidak mengenali yang mana budaya Melayu Patani dan yang mana budaya bangsa asing, kerana terdididik dibawah dasar pendidikan kebangsaan Siam.
Keterbukaan inilah sebagai salah satu khasanah budaya Melayu Patani sekarang bercampor aduk dengan budaya bangsa asing yang dibawa sendiri oleh anak-anak Patani. Sebab itu, orang melayu Patani beranggapan bahwa budaya Melayu Patani bagaikan pelangi atau taman bunga yang penuh warna warni, ada budaya Arabnya, budaya Bangldeshnya, budaya Siamnya dan sebagainya. Sedangkan khasanah budaya Melayu Patani sarat dengan nilai-nilai “jatidiri” kemelayuan Patani yang asli yang memiliki pakaian budaya Melayu Patani yang indah dan cantik mata memandangnya.
Budaya Melayu Patani menjadi simbol (lambang) dan falsafah pertuanan bangsa asal penduduk Patani. Khazanah budaya Melayu Patani yang bernilai itu dapat disimak kembali dari cara berpakaian, alat dan kelengkapan upacara kebudayaan, dari alat dan kelengkapan pakaian Melayu, dari bentuk dan ragam hias rumah, dari alat dan kelengkapan ruamah tangga, dari ungkapan-ungkapan budaya (pepatah melayu lama, bidalan, ibarat, perumpamaan, pantun, gurindam, seloka, syair dll).
Dari sisi lain, keterbukaan budaya Melayu Patani tidaklah bermakna “terdedah tanpa penapis”, sebab adat budaya Melayu Patani menjadi salah satu penapis utama dari pengaruh unsur-unsur negatif budaya bangsa asing adalah ditapis nilai-nilai Islam anutan warga Parani yang senantiasa menyaring dan membersihkan setiap unsur budaya bangsa asing yang masuk ke Patani secara Islami.
Kempin berpakaian buday Melayu Patani di hari raya ini dan hari-hari kebesaran agama dan majlis tertentu sangat patut dan layak kita generasi sekarang menghidup dan memperkasakan pakaian kebudayaan bangsa kita sendiri, agar kita tidak “Manjadi Kacang Lupakan Kulitnya”.
Editor : Media Informasi News (MIN).
_______________
Lihat Lanjut Disini :-